google.com, pub-8188148496257160, DIRECT, f08c47fec0942fa0

PRINCES ECONOMY WORLDWIDE

Informasi Terpanas Tentang Ekonomi Yang Lagi Menjadi Trending Topik diseluruh Dunia *** Read More ***

PRINCES CELEBRITY WORLDWIDE

Informasi Terpanas Tentang Kehidupan Artis Yang Lagi Menjadi Trending Topik diseluruh Dunia *** Read More ***

PRINCES HISTORY TOUR AND TRAVEL

Informasi Terpanas Tentang Perjalanan Wisata Yang Lagi Menjadi Trending Topik diseluruh Dunia *** Read More ***

PRINCES LOVE GOD

Informasi Terpanas Tentang Kehidupan Rohani Yang Lagi Menjadi Trending Topik diseluruh Dunia *** Read More ***

PRINCES ADVERTISING

Kesempatan Buat Anda yang ingin Memajukan Bisnis dengan Pasang Iklan Secara Gratis dan Dibaca diseluruh Dunia *** Read More ***

Translate this page to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Belajar Forex Gratis

Showing posts with label Kisah Manfaat Asuransi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Manfaat Asuransi. Show all posts

Lidah Artis Hollywood Di Asuransikan

Hello Cantik , Hello Ganteng, Bagaimana Dengan Tubuhmu yang Katanya Sexy dan Macho ??? Wow .... Sebaiknya Segera di Proteksi ya Agar Keindahannya Bisa Terawat Lebih Baik..... Seperti  Tubuh keren and sexy Artis artis Holly ini ya.....

1.Rambut 
Proctor and Gamble mengasuransikan rambut gimbal panjang pemain futbol profesional Pittsburg Steelers, Troy Polamalu, senilai US$1 juta. Pasalnya, dia adalah juru bicara untuk shampo Head & Shoulders keluaran mereka.

2.Lidah 
Gene Simmons dari grup rock KISS mengasuransikan lidahnya senilai US$1 juta. Dia tidak sendiri. Kritikus makanan Egon Ronay juga mengasuransikan lidahnya senilai US$400.000.


3.Jari 
Keith Richards dari grup rock The Rolling Stone telah mengasuransikan jari tengah pada tangan kirinya senilai US$1,6 juta.

4.Senyuman 
Bintang serial Ugly Betty, America Ferrera, telah diasuransikan senyumannya senilai US$10 juta oleh Aqua Fresh. Ketika itu, dia menjadi juru bicara untuk produk White Trays.

5.Suara 
Musisi Bruce Springsteen, Rod Stewart, dan Marlene Dietrich semuanya mengasuransikan suara mereka. Bruce dan Rod mengasuransikan suaranya senilai US$6 juta, sedangkan Marlene mengasuransikannya senilai US$1 juta.

6.Kaki 
Kebanyakan selebritas sepertinya mengasuransikan kaki mereka. Pesepak bola David Beckham mengasuransikan kakinya senilai US$70 juta. Tapi, penyanyi Mariah Carey mengalahkan angka tersebut dengan mengasuransikan kakinya senilai US$1 miliar. Sebelumnya, Fred Astaire telah mengasuransikan kakinya senilai US$150.000. Sedangkan kaki Rihanna, Angie Dickinson, Mary Hart dan Jamie Lee Curtis diasuransikan senilai US$1 juta.

Sementara itu, kaki supermodel Heidi Klum juga diasuransikan senilai US$2,2 juta. Kaki kanannya diasuransikan sebesar US$1 juta, lebih rendah sebesar US$200.000 daripada kaki kirinya karena memiliki bekas luka 

Indikator Kesehatan




Indikator kesehatan dapat dilihat melalui berbagai kacamata, mulai dari kacamata kedokteran, olahraga, teknologi hingga kacamata asuransi. Nah, pada kesempatan ini kami ingin berbagi informasi mengenai indikator “SEHAT” dari kacamata asuransi; yang salah satu gunanya adalah sebagai menjadi acuan awal untuk menilai diluluskan atau tidaknya sebuah klaim asuransi (khususnya penyakit kritis).


  1. Mandi, diartikan sebagai kemampuan sendiri membersihkan tubuh saat mandi atau menggunakan shower (pancuran) atau membersihkan tubuh menggunakan cara-cara lainnya dengan baik.
  2. Berpakaian, diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk mengenakan, melepas, mengencangkan dan melonggarkan segala jenis pakaian.
  3. Menyuap, diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk menyuap makanan yang sudah disiapkan dan terhidang.
  4. Buang Air, diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk buang air di kamar kecil atau jamban, atau setidaknya mampu menahan buang air untuk menjaga tingkat kebersihan diri yang memadai.
  5. Beralih tempat, diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk memindahkan tubuh dari tempat tidur ke kursi dengan sandaran yang tegak atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain pada lantai yang datar tanpa menggunakan kursi roda.

Jadi, apabila seseorang tidak dapat melakukan sendiri kelima hal tersebut maka dapat dikategorikan tidak sehat.

Masih sehatkah Anda?

Karyawan Asuransi Bercinta di Kantor

Kisah berikut ini mungkin bisa jadi pelajaran bagi orang yang kasmaran.

Sebuah pertemuan romantis larut malam di sebuah kantor asuransi di Christchurch, Selandia Baru, Jumat  malam lalu, yang disaksikan para pengunjung bar di seberang jalan, dapat membahayakan status kekaryawanan pasangan itu.

asuransi


"Adegan" bercinta pasangan karyawan The Marsh Ltd itu, yang membiarkan lampu tetap menyala dan tirai jendela terbuka di Gedung Papanui Rd, difilmkan dan difoto para pelanggan di Carlton Bar and Eatery lalu mem-posting foto-foto tersebut di Facebook dan Twitter.

Foto-foto itu tersebar di media sosial dan telah menarik ribuan orang untuk melihatnya.

"Seisi pub tahu tentang hal itu dan menontonnya, sementara mereka benar-benar tidak menyadarinya. Setelah itu, (mereka) merayakannya dengan anggur," posting salah seorang pengunjung bar.

"Mereka seharusnya mematikan lampu," kata pengunjung yang lain.

Sejumlah pelanggan mengatakan, band di bar itu berhenti memainkan musik, sementara sebagian besar pengunjung melihat keluar jendela.


Chief Executive Marsh Ltd, Grant Milne, mengatakan, perusahaannya menangani masalah itu dengan serius.

Kedua karyawan itu telah diidentifikasi dan sebuah investigasi sedang berlangsung.

"Kami tahu siapa yang terlibat. Hal itu jelas dari foto-foto yang ada," kata Milne.

Sejumlah eksekutif perusahaan broker asuransi itu terbang dari Auckland ke Christchurh pada Selasa pagi untuk membantu menangani kasus itu.

Milne tidak mengatakan apakah pria dan perempuan yang terlibat telah kembali bekerja.

"Kami menangani masalah ini sangat serius," katanya.

"Ini bukan jenis perilaku yang kami maafkan. Hal ini sangat mengecewakan."


Milne mengatakan, publisitas di dunia maya telah memalukan perusahaan.

"Salah satu tantangan dari media sosial adalah ketidakmampuan untuk mengontrol hal-hal yang terjadi," katanya.


Sementara itu di Indonesia di hebohkan Oleh Mahasiswi Cantik


Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung namanya tercoreng. Salah satu mahasiswinya berinisial RA diduga mengunggah foto panas dan memasukkannya ke akun facebook (FB).

Netizen pun sempat ramai memperbincangkan mahasiswi fakultas syariah dan hukum semester VI tersebut. Rangkaian foto itu mengundang reaksi di dunia maya. Namun sejak marak diperbincangkan, akun tersebut sudah diprotect. Ketika melakukan penelusuran akun FB milik RA sudah tidak bisa diakses.

Kepada salah satu situs berita online, rektor UIN Bandung Deddy Ismatullah tak menampik bahwa RA adalah mahasiswinya. Sejak tercium gelagat tidak baik pihak kampus yang notabenenya kampus muslim langsung memanggil RA.

mahasiswi UIN


"Itu jelas melanggar aturan. Sesuai peraturan berdasarkan tata tertib kampus dan etika. Dengan sangat terpaksa kami panggil dan sidang mahasiswi yang bersangkutan dan kami DO (Drop out)," kata Deddy, Kamis (12/2).

Adapun motif RA memasang foto selfie hot tersebut karena ekonomi. RA sengaja memasang dengan maksud menjajakan dirinya. "Dia mengaku melakukan kejahatan itu. Dan dasarnya ekonomi," ungkapnya.

"Ya begitulah. Dari aspek jawaban kami menangkapnya ekonomi, kan secara hukum itu tidak benar," terangnya.


Lihat Videonya ===>>> See Video <<<===

Jamsostek Bisa Untuk Perorangan dan Penyakit AIDS

Sejak berhenti bekerja sebagai dosen untuk meneruskan studi S3, saya tidak punya pekerjaan tetap.  Saya beruntung tidak perlu cemas memikirkan penghasilan karena tawaran pekerjaan paruh waktu datang dari berbagai pihak. Yang membuat saya khawatir adalah asuransi kesehatan dan jaminan hari tua. Memang sih, saya bisa saja menyisihkan sendiri sebagian penghasilan saya untuk ditabung dan dijadikan jaminan hari tua. Saya juga bisa memastikan bahwa, misalnya, 5% dari penghasilan saya setiap bulan disimpan untuk keperluan pemeliharaan kesehatan. Tapi, setelah saya hitung-hitung, jumlah tersebut tidak akan memadai jika dalam setahun saya harus menemui dokter spesialis, melakukan perawatan gigi, masuk rumah sakit untuk rawat inap, atau untuk menebus obat-obatan non-generik yang mahal. Saya butuh asuransi kesehatan.

jamsostek


Yang jadi tantangan adalah, sepengetahuan saya asuransi kesehatan swasta memiliki premi yang cukup mahal, apalagi bagi saya yang punya penyakit kronis yang tentu akan dikategorikan sebagai preexisting condition. Saya menemukan jawaban atas kebingungan saya ketika duduk di pertemuan dengan perwakilan Jamsostek di kantor Komisi Penanggulangan AIDS Nasional bulan Juli lalu. Dalam rapat itu saya mendapat berbagai informasi yang, menurut saya, lumayan mencerahkan dan ingin saya bagi dengan sebanyak mungkin orang dengan preexisting conditions yang belum memiliki asuransi kesehatan karena berbagai alasan.

Hal pertama yang terdengar mencerahkan adalah Jamsostek punya program bagi individu yang tidak terikat kontrak kerja dengan suatu institusi atau badan usaha. Ini informasi baru yang saya tidak tahu sebelumnya. Saya pikir hanya mereka yang bekerja pada perusahaan peserta Jamsostek saja yang bisa menikmati manfaatnya. Ternyata dugaan saya salah. Saya bisa mendaftar secara perseorangan lewat Program Jamsostek bagi Tenaga Kerja yang Melakukan Pekerjaan di Luar Hubungan Kerja atau Program LHK singkatnya. Kedua, saya pikir Jamsostek hanya menyediakan jaminan hari tua, namun pemikiran saya tidak tepat. Jamsostek punya berbagai program yang saya tidak tahu sebelumnya, termasuk di dalamnya Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) yang –ini poin paling penting—tidak mengenal istilah preexisting condition. Dengan kata lain pasien TBC, asma, hepatitis, diabetes, kanker, HIV, atau penyakit lainnya tidak bisa ditolak dengan alasan mereka mengidap penyakit tersebut sebelum menjadi peserta JPK. Yang lebih menarik lagi, JPK memberikan manfaat bagi penderita critical illness yang harus menjalani hemodialisa atau cuci darah, operasi jantung, transplantasi organ, serta anggaran dana khusus bagi penderita kanker dan HIV.

Saking semangatnya mendengar berita baik ini, seusai rapat saya langsung mendatangi kantor cabang Setiabudi, Jakarta Selatan, untuk mendaftar sebagai peserta Jamsostek. Tapi semangat saya surut seketika saat staff yang menerima aplikasi saya mengatakan, “Maaf, tapi kami tidak melayani aplikasi perorangan. Anda harus terdaftar sebagai karyawan di suatu institusi, dan perusahaan tempat Anda bekerja adalah peserta Jamsostek.” Terang saya kesal mendengar penjelasannya. Lha wong baru satu jam lalu saya menghadiri presentasi karyawan kantor pusat Jamsostek yang terdengar begitu meyakinkan. Saya langsung menyahut, “Tapi, Pak…” dan memberikan penjelasan panjang lebar mengenai berbagai informasi yang saya terima saat duduk di rapat tersebut. Untung saya mencatat semuanya sehingga saya pun bisa dengan lancar menyampaikan ulang presentasi yang saya dengar. Mendengar penjelasan saya, karyawan Jamsostek itu meminta maaf karena tidak tahu menahu mengenai informasi tersebut. Dia lalu menawarkan agar saya menemui atasannya untuk mendiskusikan aplikasi saya. Saya segera menyambut baik tawaran itu. Setelah menunggu beberapa saat, saya ditemui oleh Kepala Bidang Pemasaran Informal, Bapak Iman Aminnullah. Mengetahui maksud kedatangan saya, beliau kemudian mulai menjelaskan, “Begini ya Mbak, Anda bisa mendaftar menjadi peserta LHK, tapi kami tidak menerima peserta perorangan. Anda harus tergabung dengan suatu paguyuban dan mendaftar bersama-sama dengan anggota paguyuban lainnya. Misalnya nih, Mbak adalah tukang ojek… maka Mbak perlu mengumpulkan beberapa tukang ojek lainnya untuk membentuk paguyuban tukang ojek. Kemudian Mbak mendaftarkan paguyuban Mbak sebagai anggota LHK.”

Setengah geli karena dianggap sebagai tukang ojek, dan setengah sebal karena informasi yang disampaikan berbeda dengan yang saya dengar di rapat, saya pun mengulang penjelasan yang saya dapat sebelumnya. Saya beruntung Pak Iman sangat kooperatif. Setelah sebelumnya meminta maaf karena tidak tahu-menahu mengenai program perseorangan yang saya sebutkan, beliau lalu meminta waktu untuk berbicara dengan rekan kerjanya. Singkat cerita, setelah kasak-kusuk cukup lama, saya dinyatakan bisa mendaftar sebagai anggota program LHK. Pak Iman mengatakan bahwa saya adalah peserta perorangan pertama di kantor Jamsostek cabang Setiabudi. Mengingat sistem yang ada belum mampu mengakomodasi peserta perorangan, Pak Iman minta diberikan waktu beberapa hari untuk mencari cara agar nama saya bisa dimasukkan ke dalam sistem peserta Jamsostek. Saya juga diminta untuk menyerahkan dokumen yang dibutuhkan, seperti fotokopi Kartu Keluarga, KTP, pas foto, serta surat keterangan kerja. Dalam waktu kurang dari satu minggu saya dihubungi oleh Pak Iman dan diminta untuk memasukkan setoran perdana saya di Bank DKI. Selang beberapa hari kemudian saya kembali dipanggil ke kantor Jamsostek untuk mengambil kartu Jamsostek dan kartu JPK saya.
Saya senang karena usaha saya yang lumayan ngotot berbuah hasil. Sekarang saya bisa merasa lebih tenang karena sudah punya kartu asuransi dan jaminan hari tua.

Peserta BPJS Bertambah

BPJS Kesehatan sudah menjalin kerjasama dengan 30 perusahaan asuransi swasta.
Dalam rangka melaksanakan amanat pasal 28 Peraturan Presiden (Perpres) No. 111 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, sampai saat ini BPJS Kesehatan telah menjalin koordinasi manfaat atau coordination of benefit (COB) dengan 30 perusahaan asuransi swasta.Direktur Pelayanan BPJS Kesehatan, Fajriadinur, mengatakan prinsip COB adalah koordinasi manfaat yang diberlakukan jika peserta BPJS Kesehatan membeli asuransi swasta yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.  Skema COB, kata Fajri, semakin diminati perusahaan asuransi swasta.BPJS Kesehatan memandang kerjasama manfaat itu penting mengingat target seluruh penduduk Indonesia sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan pada 2019. Skema COB diharapkan dapat menggugah masyarakat menjadi peserta dan penyelenggara fasilitas kesehatan memberikan layanan yang baik.


Perusahaan asuransi swasta yang terakhir menandatangani perjanjian kerjasama COB dengan BPJS Kesehatan adalah Asuransi Central Asia, AIA Indonesia, Asuransi Jiwa Recapital, Allianz Life Indonesia, Astra Aviva Life, Bosowa Asuransi, Asuransi Jiwa Bringin Jiwa Sejahtera dan Equity Life Indonesia, Great Eastern Life Indonesia, MNC Life Assurance dan Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha. “Sampai hari ini sudah ada 30 perusahaan asuransi swasta yang melaksanakan COB,” kata Fajri dalam acara penandatanganan COB dengan 11 perusahaan asuransi swasta di kantor BPJS Kesehatan Jakarta, Kamis (12/1).



Fajri mengatakan perusahaan asuransi swasta bisa memberi diskon terhadap premi yang dibayar peserta. Dalam COB, BPJS Kesehatan adalah sebagai pembayar atau penjamin pertama atas klaim peserta. Yang penting bagi perusahaan asuransi swasta adalah profit. Melalui mekanisme COB perusahaan asuransi dapat mengeluarkan satu premi kepada peserta. Peserta asuransi swasta sekaligus ikut ke dalam program Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan. Cara tersebut diharapkan dapat menurunkan premi yang dibayar peserta terhadap asuransi swasta.

Dalam pelaksanaan COB Fajri mengingatkan agar semua pihak saling berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik agar kendala teknis bisa diminimalisasi. Kuncinya ada pada pelaksanaan teknis yang disusun bersama BPJS dan perusahaan asuransi. Misalnya tentang siapa pihak yang
lebih dulu membayar klaim, apakah asuransi swasta bayar dulu kemudian menagih ke BPJS Kesehatan. Atau fasilitas kesehatan membuat dua tagihan klaim, masing-masing ditujukan kepada BPJS Kesehatan dan asuransi swasta. “Implementasi COB itu harus dikawal. Jika ada masalah dibahas dan diselesaikan bersama,” urainya.

Bertambahnya jumlah asuransi swasta yang menjalin COB sekaligus meningkatkan jumlah fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Fajri mencatat ada 1.546 dari 2.200 fasilitas kesehatan lanjutan yang bisa dimanfaatkan peserta BPJS Kesehatan. Jumlah itu akan bertambah karena saat ini ada kelompok rumah sakit (RS) menyatakan ingin bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Direktur PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Todd Robert Swihart, mendukung skema COB dan berharap penetrasi asuransi terhadap masyarakat Indonesia bisa lebih masif. Sebab, di Indonesia jumlah masyarakat yang sudah menjadi peserta asuransi jumlahnya masih sedikit. “Kami mendukung skema COB BPJS Kesehatan,” paparnya.

Robert berharap agar semua pihak terkait bisa bekerjasama. Kerjasama, Robert yakin, dapat mengurangi hambatan yang timbul di lapangan. Alhasil, asuransi bisa memberikan manfaat penuh kepada peserta.

Asuransi Critical Illness

Asuransi penyakit kritis (Critical Illness) memiliki 5 fungsi:
1. Membiayai pengobatan penyakit kritis.
2. Membiayai perawatan setelah pengobatan penyakit kritis
3. Mengganti penghasilan yang hilang selama atau karena tidak bisa bekerja
4. Mencegah kehilangan aset dan jeratan utang.
5. Memelihara kepercayaan diri.

Uang pertanggungan penyakit kritis mungkin memenuhi empat fungsi pertama, mungkin pula beberapa fungsi saja, atau mungkin saja satu fungsi pun tidak tercukupi. Oleh karena itu, UP proteksi penyakit kritis harus besar, lebih besar dari biaya untuk berobat, dan masih ada sisanya untuk biaya perawatan lanjutan, mengganti penghasilan, dan membayar utang (jika sebelumnya terpaksa berutang). Semua itu bermanfaat membawa seseorang pada fungsi kelima: terjaganya kepercayaan diri karena terhindar dari perasaan membebani orang lain.

alianz


Berapa UP penyakit kritis yang ideal? Dari segi dampaknya, penyakit kritis memiliki dampak keuangan yang setara dengan peristiwa meninggal dunia, atau malah lebih besar. Jadi, idealnya, UP penyakit kritis sama dengan UP jiwa. Tapi berapa pun itu, UP penyakit kritis tetap berguna untuk mengurangi beban hidup.


Penyakit kritis itu sebagian besar tidak datang tiba-tiba, tapi hasil dari akumulasi kebiasaan dan gaya hidup yang tidak sehat. Apalagi zaman sekarang, macam-macam sebab orang jadi sakit. Stres pekerjaan, polusi udara, rokok, kebanyakan duduk dan kurang olahraga, aneka makanan mengandung bahan kimia, dll. Kadar gula darah, asam urat, kolesterol, dan menumpuknya lemak, berperan memicu timbulnya penyakit kritis. Semua itu terkumpul sedikit demi sedikit, menumpuk terus, seringkali tanpa disadari.

Penyakit kritis adalah sejenis penyakit yang datangnya perlahan-lahan, pengobatannya memerlukan waktu lama, sembuhnya perlahan-lahan, dan harus disertai perubahan gaya hidup dengan disiplin yang ketat. Jika tidak dapat disembuhkan, maka bisa berakibat hilangnya kemandirian hidup. Dan jika sampai pada umurnya, maka proses ke arah sana pun umumnya perlahan-lahan.

Jadi, siapkan diri anda menghadapi kondisi terburuk dalam hidup.

Di Allianz, asuransi penyakit kritis tersedia sebagai rider (proteksi tambahan) dalam asuransi jiwa Tapro Allisya Protection Plus. Ada 49 penyakit kritis yang ditanggung. Klaim bisa diajukan ketika tertanggung pertama kali terdiagnosa salah satu dari 49 penyakit kritis, tanpa harus menjalani perawatan terlebih dahulu.

Jika Dana untuk Asuransi Terbatas

Jika dana untuk asuransi terbatas, kita perlu lebih bijak menentukan asuransi apa yang sebaiknya kita ambil sebagai prioritas. Dalam hal ini ada beberapa kekeliruan yang sering saya jumpai di lapangan, antara lain mendahulukan asuransi untuk anak, meniatkan asuransi untuk pendidikan, mengambil asuransi dengan uang pertanggungan yang minim, dan mendahulukan asuransi kesehatan (untuk salah satu anggota keluarga) daripada asuransi jiwa (untuk pencari nafkah).

Berikut ini saya sajikan beberapa contoh asuransi yang sebaiknya diambil jika dana terbatas. (Selain artikel ini, baca juga   Miliki Asuransi Berdasarkan Prioritasnya).

Contoh 1: Dana 300 ribu per bulan, belum punya asuransi apa pun.

asuransi


Sebuah keluarga memiliki penghasilan 3 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 300 ribu per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?
Saran saya, asuransi yang prioritas untuk diambil adalah asuransi jiwa untuk pencari nafkah (orangtua).
Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.

Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 300 ribu per bulan, ada dua pilihan:
  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 100 sd 500 juta, kecelakaan (ADDB) 100 sd 250 juta, cacat tetap total (TPD) 100 sd 250 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 100 sd 250 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 300 sd 800 juta.
Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, kondisi kesehatan, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau di antara anggota keluarga ada yang sakit dan harus dirawat inap?

Jika ingin ditanggung juga untuk asuransi kesehatan sekeluarga, maka pilihannya adalah:
  1. Mendaftar program JKN BPJS kelas 3 dengan premi per orang 25.500, empat orang berarti 102 ribu per bulan.
  2. Sisanya 200 ribu per bulan dibelikan asuransi jiwa untuk pencari nafkah. Tapi karena saat ini jarang sekali produk asuransi jiwa yang menyediakan premi bulanan 200 ribu, alternatifnya ambil premi triwulanan 600 ribuan, semesteran 1,2 juta, atau tahunan 2,4 juta.
Contoh 2: Dana 500 ribu per bulan, belum punya asuransi apa pun.

Mirip dengan contoh 1, kali ini sebuah keluarga memiliki penghasilan 5 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 500 ribu per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).


Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?
Pendapat saya:
  1. Asuransi jiwa untuk pencari nafkah dengan premi 300-400 ribuan per bulan.
  2. Asuransi kesehatan untuk sekeluarga melalui program JKN BPJS dengan premi 100-170 ribuan per bulan (tergantung kelas yang dipilih).
Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.
Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 400 ribu per bulan, ada dua pilihan:
  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 150 sd 650 juta, kecelakaan (ADDB) 150 sd 350 juta, cacat tetap total (TPD) 150 sd 350 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 150 sd 350 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 400 juta sd 1,2 miliar.
Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.
Asuransi kesehatan bermanfaat jika di antara anggota keluarga ada yang mengalami sakit, terutama sakit yang memerlukan rawat inap di rumah sakit. Asuransi kesehatan harus dianggarkan untuk seluruh anggota keluarga, karena kita tak pernah tahu siapa yang akan mengalami sakit.

Asuransi kesehatan memakai program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan. Dalam hal ini setidaknya ada dua pilihan:
  1. Kelas 3, dengan premi 25.500 per orang. Total 4 orang berarti 102 ribu per bulan.
  2. Kelas 2, dengan premi 42.500 per orang. Total 4 orang berarti 170 ribu per bulan.
Contoh 3: Dana 1 juta per bulan, belum punya asuransi apa pun

Kali ini kita mengambil contoh sebuah keluarga yang memiliki penghasilan 10 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 1 juta per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?
Pendapat saya:
  1. Asuransi jiwa untuk pencari nafkah, dengan premi 750 ribu per bulan. Jika penghasilan 10 juta itu diperoleh berdua suami-istri, maka preminya bisa dibagi dua, mungkin 400 ribu untuk suami dan 350 ribu untuk istri.
  2. Asuransi kesehatan melalui program JKN-BPJS, ambil kelas 1 (premi 59.500 per orang x 4, total 238 ribu per bulan).
Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.

Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 750 ribu per bulan, ada dua pilihan:
  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 250 juta sd 1 miliar, kecelakaan (ADDB) 250 sd 500 juta, cacat tetap total (TPD) 250 sd 500 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 250 sd 500 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 750 juta sd 2 miliar.
Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.

Contoh 4: Dana di bawah 1 juta per bulan, sudah punya asuransi kesehatan dari kantor

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini sebuah keluarga sudah memiliki asuransi kesehatan dari perusahaan tempat pencari nafkah bekerja. Penghasilan 10 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 1 juta per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak.

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?
Pendapat saya: Maksimalkan dana yang ada untuk asuransi jiwa bagi pencari nafkah (ayah saja atau ayah dan ibu).

,
Tanya-Jawab

T: Dari keempat contoh tersebut, mengapa selalu disarankan ambil asuransi jiwa dulu, bukan asuransi kesehatan?

J: Pertama, risiko yang ditanggung dalam asuransi jiwa, yaitu cacat tetap, penyakit kritis, dan meninggal dunia, lebih besar dampak keuangannya daripada risiko yang ditanggung dalam asuransi kesehatan, yaitu rawat inap di rumah sakit. Kedua, seluruh anggota keluarga bergantung secara ekonomi kepada pencari nafkah (misalnya ayah). Selama ayah masih hidup, sehat, dan mampu bekerja normal, ekonomi keluarga akan tetap bisa berjalan. Ketiga, Bicara asuransi jiwa, kita bisa dengan tegas mengatakan: untuk pencari nafkah. Tapi jika mendahulukan asuransi kesehatan, kita akan dihadapkan pada pertanyaan: siapa dulu yang harus diberikan askes? Apakah ayah, ibu, anak pertama, atau anak kedua? Kalau yang diberikan askes itu ayah, bagaimana kalau yang sakit ibu atau anak? Kalau yang diberikan askes itu anak pertama, bagaimana kalau yang sakit anak kedua?

T: Mengapa untuk asuransi kesehatannya selalu disarankan pakai JKN-BPJS, bukan asuransi swasta?

J: Pertama, dana yang ada cukupnya memang untuk BPJS saja. Kedua, kalau pakai askes swasta, premi 300 ribu per bulan hanya cukup untuk askes satu orang, itu pun dengan plan yang rendah (kamar 200 ribu). Pertanyaannya, manfaat askes ini harus diberikan kepada siapa? Ayah, ibu, anak pertama, atau anak kedua? Ketiga, ini juga yang membedakan asuransi Allianz dengan asuransi lain, yaitu kami selalu menyarankan para nasabah untuk mengikuti program JKN dari BPJS Kesehatan.

T: Bagaimana dengan asuransi pendidikan?

J: Dana yang dialokasikan untuk persiapan pendidikan anak mestinya di luar dari dana yang dianggarkan untuk asuransi jiwa dan kesehatan. Jadi, untuk persiapan pendidikan anak, tetap harus menabung atau berinvestasi lagi secara tersendiri. Kalau mau disatukan dengan asuransi boleh juga, alokasinya ditaruh sbg top up/saver. Tapi keinginan untuk mempersiapkan pendidikan anak jangan sampai mengurangi manfaat asuransi jiwa untuk pencari nafkah.

Baca juga: Prinsip dan Tips Persiapan Dana Pendidikan Anak.

T: Bagaimana dengan asuransi rawat jalan dan melahirkan?

J: Rawat jalan dan melahirkan perlu dipersiapkan, tapi sebaiknya tidak lewat asuransi. Biaya rawat jalan tidaklah besar, dan biaya melahirkan pun masih terukur. Dibandingkan rawat inap, penyakit kritis, cacat tetap, atau meninggal dunia, mana yang lebih besar dampak keuangannya? Sementara premi rawat jalan dan melahirkan itu mahal sekali, bahasa kerennya not worth it“.
Jika anda punya JKN-BPJS, di situ sudah tercakup manfaat rawat jalan dan persalinan. Jika dirasa masih kurang, anda bisa tambah dengan dana darurat. Khusus untuk melahirkan, sebaiknya ditambah pula dengan menabung secara khusus, apalagi keperluan persalinan bukan hanya biaya rumah sakit, tapi juga pakaian bayi, tasyakuran, perawatan ibunya, dll yang semua itu tidak ditanggung asuransi mana pun.

Baca juga: Hal-hal yang Tidak memerlukan asuransi.

T: Tentang contoh 4, keluarga tsb sudah punya askes dari kantor. Kalau mau nambah askes lagi bagaimana?

J: Boleh saja, tapi kalau dananya terbatas (1 juta atau kurang), penuhi dulu kebutuhan asuransi jiwanya.

T: Memangnya berapa kebutuhan asuransi jiwa?

J: Sederhananya, jika pencari nafkah meninggal dunia, uang pertanggungan yang diwariskan harus bisa menggantikan penghasilan yang biasanya dia berikan untuk keluarganya. Minimal untuk biaya hidup sekeluarga dan pendidikan anak-anak sampai mereka mandiri. Atau lebih minimal lagi, cukup jika dijadikan modal usaha untuk melanjutkan kehidupan ekonomi keluarga.
Misalnya, penghasilan 3 juta per bulan, anggaran asuransi 300 ribu per bulan. Untuk usia 30 tahun, standarnya mendapatkan UP 150 juta (ditambah ADDB, TPD, dan CI100 @150 juta). Jika dia meninggal, keluarganya memperoleh uang 150 juta. Uang ini mungkin tidak cukup kalau hanya dihabiskan begitu saja untuk biaya hidup tiap bulan sampai anak mandiri. Tapi kalau dijadikan modal usaha, hasilnya bisa lumayan dan dana pokoknya pun bisa berkembang.

Tapi kalau premi 300 ribu per bulan dimaksimalkan di manfaat meninggal, maka bisa memperoleh UP hingga 800 juta. Uang 800 juta, seandainya didepositokan saja dengan bunga 5% (40 juta per tahun), itu cukup untuk menggantikan penghasilan 3 juta per bulan.
Cuma kalau dimaksimalkan di manfaat meninggal, risiko penyakit kritis dan cacat tetap belum ditanggung.

T: Seberapa penting asuransi yang menanggung risiko cacat tetap (karena sakit ataupun kecelakaan) dan penyakit kritis? Apakah manfaat meninggal saja tidak cukup?

J: Pertama, manfaat meninggal saja akan cukup seandainya seseorang TIDAK MUNGKIN mengalami cacat tetap dan penyakit kritis. Kedua, risiko cacat tetap dan penyakit kritis bisa membuat seseorang tidak bisa bekerja, dan jika tidak bekerja, dia tidak akan memperoleh penghasilan. Jadi, bicara melindungi penghasilan keluarga, mengambil manfaat meninggal saja belum cukup.

T: Tentang risiko penyakit kritis, apakah tidak cukup dengan asuransi kesehatan saja?

J: Pertama, bicara penyakit kritis semacam kanker, jantung, stroke, gagal ginjal, jelas sekali ada kebutuhan biaya yang sangat besar, bisa ratusan juta sd miliaran. Asuransi kesehatan biasa saja tidak mungkin cukup. Kedua, di samping itu ada satu akibat lain yang sering ditimbulkan penyakit kritis, yaitu berkurangnya kemampuan bekerja, atau bahkan tidak bisa bekerja sama sekali, baik untuk sementara ataupun selamanya. Yang dibutuhkan di sini ialah sejumlah uang tunai (UP) untuk menggantikan penghasilan yang hilang karena tidak bisa bekerja.

Single Parents Financial

 Perencanaan keuangan jangka panjang bagi single parents jelas memiliki tantangan tersendiri.

Kehilangan pekerjaan atau jatuh sakit dapat menjadi sebuah bencana besar dalam keluarga dengan orangtua tunggal dibandingkan rumah tangga dengan kedua orangtua. Akan lebih parah jika Anda adalah seorang single mom yang sebelumnya berhenti bekerja demi mengurus keluarga, karena biasanya Anda akan mendapatkan penghasilan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.

singgle parent



Menentukan Prioritas Financial Sebagai Single Parents -Sebagai seorang single parents, Anda akan dihadapkan dengan keputusan-keputusan financial yang terkadang menjebak. Manakah yang harus Anda prioritaskan dan manakah yang bisa Anda tunda? Cermati beberapa tips berikut dari Princes :

  1-Kebutuhan Rutin

Yang paling utama adalah membayar kebutuhan rutin terlebih dahulu. Jangan pernah lupa untuk menyisihkan penghasilan untuk membayar listrik, membayar cicilan KPR atau sewa rumah, karena inilah pos pengeluaran yang memastikan Anda dapat dapat bertahan hidup dalam jangka pendek. Jangan lupa untuk membuat budget bulanan untuk mengetahui pos-pos yang dapat dihemat, dan juga segera lunasi hutang-hutang kartu kredit.


  2-Asuransi Jiwa

Andalah satu-satunya tempat bergantung yang dimiliki oleh anak-anak Anda. Apa yang akan terjadi pada anak-anak Anda jika tiba-tiba terjadi sesuatu kepada Anda? Oleh karena itu, asuransi jiwa wajib Anda miliki sebagai proteksi bagi anak-anak Anda. Simak tips memilih asuransi jiwa di sini .

 3- Dana Darurat

Sisihkan sebagian penghasilan Anda setiap bulan untuk dana darurat, yang akan Anda butuhkan ketika ada anggota keluarga yang sakit, atau ketika Anda mengalami hal yang tidak diinginkan semisal terkena PHK dari tempat kerja. Berapa besaran dana darurat yang ideal? Jika Anda memiliki 1 anak, dana darurat seharusnya 9 kali pengeluaran bulanan, sedangkan jika anak Anda lebih dari dua, sebaiknya Anda menyisihkan 12 kali pengeluaran bulanan sebagai dana darurat.


 4-Dana Pensiun

Bagaimanapun juga, Anda harus memikirkan tentang masa depan Anda. Bagaimana jika Anda sudah memasuki masa pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan rutin? Sisihkan sedikit dari penghasilan bulanan Anda untuk ini. Ingat, dana pensiun dari perusahaan belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan dana pensiun Anda. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai produk dana pensiun yang paling cocok untuk Anda, simak di sini.


 5-Asuransi Kesehatan

Jika telah memiliki asuransi kesehatan dari kantor, Anda dapat menaruh asuransi kesehatan ini di prioritas ke-5. Namun jika perusahaan tidak memiliki asuransi kesehatan yang memadai, ada baiknya Anda memprioritaskan asuransi kesehatan di atas dana darurat.


 6-Tabungan Kuliah

Hal ini mungkin agak mengejutkan, namun jika Anda memiliki masalah keuangan dan harus memilih antara masa depan Anda dan biaya kuliah anak, ada baiknya Anda memfokuskan diri pada masa depan Anda terlebih dahulu. Telah banyak institusi yang memberikan beasiswa kepada anak-anak berprestasi, dan Anda harus mulai memberikan dorongan kepada anak untuk mendapatkan beasiswa.

Why Buy Insurance ? When applying for a loan


asuransi

Disaat kita mengambil kredit atau hutang sebenarnya tidak perlu membeli asuransi selama ada aset yang bisa dipakai untuk membayar kredit atau hutang tersebut apabila terjadi kemacetan pembayaran kredit atau hutangnya tersebut. 



Sebagai perencana keuangan yang bekerja di perusahaan Finance, banyak teman saya atau nasabah saya menanyakan, apakah mereka perlu beli asuransi saat berhutang atau mengambil kredit. Entah itu kredit kepemilikan rumah (KPR) atau kredit kendaraan bermotor (KKB) yang memiliki agunan berupa rumah atau kendaraan bermotornya. Atau, kredit tanpa jaminan seperti kredit tanpa agunan (KTA) dan utang kartu kredit.

Intinya, mereka mengambil kredit atau hutang tersebut karena ada kebutuhan uang untuk membeli sesuatu. Nah, saat kekurangan uang, mereka malah mengeluarkan uang untuk membeli asuransi.

Jawaban saya simple. Orang yang mengambil kredit atau hutang sebenarnya tidak perlu membeli asuransi selama ada aset yang bisa dipakai untuk membayar kredit atau hutang tersebut apabila terjadi kemacetan pembayaran kredit atau hutangnya tersebut.

Dan, kemacetan pembayaran tersebut hanya yang disebabkan oleh risiko hidup, seperti sakit, cacat, atau meninggal, bukan karena macet akibat di-PHK dan sejenisnya.

Aset tersebut bisa berupa uang tunai di bank, misalnya di tabungan/deposito, atau berupa aset properti, misalnya rumah atau kendaraan bermotor. Pertanyaan selanjutnya yang muncul, bukankah agunan berupa rumah atau kendaraan bermotor yang dibeli sudah cukup sehingga tidak perlu membeli asuransi lagi.

Saya balik bertanya, kalau mereka rela aset yang sudah dibeli dengan hasil kerja keras mereka, yaitu rumah atau kendaraan bermotor, disita oleh bank karena pembayaran kreditnya macet, ya memang sudah cukup bagi bank. Sebab, biasanya kredit yang diambil untuk membeli aset tersebut hanya maksimum 70% atau 80% dari nilai aset tersebut.

Namun, akan terjadi kerugian bagi mereka sendiri sebab aset tersebut dipakai untuk kebutuhan mereka dan keluarga. Misalnya, rumah yang sedang ditinggali. Karena pembayaran KPR-nya macet, maka disita oleh bank. Bagaimana dengan nasib keluarga yang sedang tinggal di rumah tersebut?

Jadi, untuk menghindari kerugian tersebut, asuransi bisa dipakai sebagai “hedging” apabila risiko hidup terjadi. Apalagi untuk kredit yang tidak memiliki jaminan atau agunan seperti KTA dan kartu kredit, dirinya (kalau masih hidup) dan keluarga akan resah karena dikejar-kejar penagih utang atau debt collector.

Saya punya kisah nyata mengenai hal ini. Ada kawan saya menghubungi saya sebab kawannya (sebut saja Pak Dul) tiba-tiba meninggal karena serangan jantung dan meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Usia Pak Dul masih relatif muda, yaitu awal 40 tahun, dan sedang giat-giatnya membangun bisnisnya sendiri. Dia sering membeli barang untuk kebutuhan bisnisnya tersebut dengan kartu kredit dengan jumlah pemakaian yang cukup besar. Memang, setiap jatuh tempo Pak Dul selalu membayar lunas tagihan kartu kreditnya yang jumlahnya lebih dari satu tersebut.

Masalahnya, karena dia tiba-tiba meninggal, tagihan kartu kreditnya tidak terbayarkan dan akhirnya membengkak karena bunga-berbunga. Apalagi, bunga kartu kredit tidak kecil, sekitar 3%-4% per bulan.

Nah, kawan saya menghubungi saya karena salah satu kartu kreditnya tersebut ternyata memiliki credit shield atau asuransi jiwa kredit untuk pemegang kartu kredit tersebut, dan credit shield-nya berasal dari perusahaan asuransi jiwa.

Singkat kata, saya membantu menguruskan pelunasan tagihan kartu kreditnya dari manfaat asuransi credit shield tersebut dan beres. Pada saat saya bertemu istri almarhum untuk menyampaikan bahwa utang kartu kredit almarhum sudah lunas, dia mengucapkan terima kasih, tapi sambil menyesalkan kenapa hanya satu kartu kredit yang dibelikan credit shield.

Ternyata, kartu kredit yang lain tidak memiliki manfaat credit shield sehingga mau tidak mau istri almarhum harus melunasi tagihannya yang makin membesar. Dan, hal itu sangat memberatkan istri almarhum, khususnya dalam hal keuangan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Dari kisah nyata tersebut saya memberikan jawaban atas pertanyaan teman-teman dan nasabah-nasabah saya mengenai apakah orang yang berutang perlu membeli asuransi. Mereka akhirnya sadar akan pentingnya asuransi jiwa dalam perencanaan keuangan mereka

Nah Sekarang tinggal bagaimana dengan Anda??? Semua Keputusan Ada di tangan Anda.....

Pentingnya Proteksi Kecelakaan


Asuransi
Data Badan Pusat Statistik menyatakan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia tahun 2013 mencapai 100.106 kali. Dari jumlah kecelakaan itu, yang meninggal 26.416 orang. Setiap jam setidaknya terdapat 12 kasus kecelakaan lalu lintas yang merenggut tiga korban jiwa. Sementara setiap harinya, 69 nyawa melayang di jalan raya.


Dalam dua tahun terakhir, kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Ibu Kota semakin membuat miris. Mulai dari kasus Afriani Susanti yang menabrak 15 orang dan menewaskan sembilan orang.

Setelah itu, Rasyid Rajasa, putra Hatta Rajasa yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Perekonomian RI, juga menabrak saat mengendarai mobil dengan menabrak kendaraan lain di jalan tol sehingga dua orang meninggal. Kemudian muncul kabar tak kalah memilukan, AQJ, anak di bawah umur yang melintas pembatas jalan tol dan menewaskan tujuh orang.

Data Badan Pusat Statistik menyatakan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia tahun 2013 mencapai 100.106 kali. Dari jumlah kecelakaan itu, yang meninggal 26.416 orang. Setiap jam setidaknya terdapat 12 kasus kecelakaan lalu lintas yang merenggut tiga korban jiwa. Sementara setiap harinya, 69 nyawa melayang di jalan raya.

Kini terjadi lagi tabrakan maut di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa 20 Januari 2015. Christopher Daniel Sjarif pelaku yang menabrak hingga menewaskan empat orang dan dua luka parah ternyata positif menggunakan narkoba. Narkoba yang digunakan adalah LSD (Lysergic Acid Diethyamide) yang merupakan narkotika golongan satu. (Lihat Infografis: Kronologi Tabrakan Maut di Pondok Indah).

Berikut tiga kasus kecelakaan sebelumnya yang menyedot perhatian karena kejadiannya yang mengenaskan, jumlah korbannya yang cukup banyak, dan pelakunya orang terkenal.

    Afriani Susanti Divonis 15 Tahun Penjara

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Afriani Susanti, 29 tahun, dijatuhi hukuman selama 15 tahun penjara karena melanggar Undang-Undang Lalu Lintas. Dia dianggap bersalah karena lalai mengemudikan kendaraan sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain.

Afriani Susanti, merupakan pengemudi Xenia yang menabrak 13 orang di Jalan M.I. Ridwan Rais, Ahad, 22 Januari 2012 sehingga menyebabkan sembilan orang tewas.

Afriani mengendarai mobil Daihatsu Xenia hitam berpelat nomor B 2479 XI dengan kecepatan 100 km/jam. Dari hasil pemeriksaan urine, dia positif mengkonsumsi narkoba dan miras sebelum mengendarai kendaraan tersebut.


asuransi


    AQJ Dikembalikan ke Orang Tua

Pengadilan Negeri Jakarta Timur memvonis AQJ alias Dul, 14 tahun dikembalikan kepada orangtua. Putra Musisi Ahmad Dhani dan Musisi Maia Estianty tersebut terhindar dari tuntutan Jaksa yang menuntutnya dengan pidana 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama dua tahun dengan denda 50 juta rupiah atau subsider 3 bulan kerja sosial. Sidang putusan digelar Pengadilan Negeri Jakarta Timur, 16 Juli 2014.

Ketua Majelis Hakim Fetriyanti, SH menyatakan AQJ bersalah dan melanggar Pasal 310 Ayat 1,3,4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. “Ahmad Abdul Qadir Jaelani terbukti bersalah atas kelalaian mengendarai kendaraan bermotor sehingga mencelakaan orang,” ujarnya.

Namun, Dul, terutama Ahmad Dhani dianggap sudah bertanggung jawab terhadap para korban dan dijadikan pertimbangan oleh majelis hakim. “Banyak yang sudah dilakukan pihak terdakwa sebagai aksi pertanggungjawaban terhadap para korban,” ujar Fetriyanti ketika membacakan butir pertimbangan.


AQJ dinyatakan bersalah atas kelalaiannya mengendarai kendaraan mobil yang menewaskan 7 orang di Jalan Tol Jagorawi KM 8, September lalu. Mobil sedan Mitsubishi Lancer bernopol B 80 SAL menabrak mobil yang datang dari berlawanan karena menghindari mobil di depannya. Saat itu AQJ diduga memacu mobilnya hingga mencapai kecepatan 170 Km per jam.

    Rasyid Rajasa Divonis Enam Bulan Percobaan

Jakarta- Majelis hakim memutuskan terdakwa kasus kecelakaan BMW maut M. Rasyid Amrullah Rajasa, 22 tahun, divonis lima bulan dengan masa percobaan enam bulan. Ketua Majelis Hakim, J.Soeharjono mengatakan Rasyid terbukti melanggar Pasal 310 ayat (4) dan ayat (2) tentang lalu lintas dan angkutan jalan Undang-undang Lalu Lintas nomor 22 Tahun 2009.

“Terdakwa lalai dan menyebabkan korban meninggal dunia dan luka-luka,” kata Soeharjono dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin, 25 Maret 2013.

Namun, hakim menimbang kecelakaan tersebut tidak seluruhnya kesalahan terdakwa. “Kecelakaan juga karena keadaan kondisi mobil Luxio yang memodifikasi kursi sehingga membahayakan penumpang,” ujarnya.

Sebelumnya, Rasyid ditetapkan sebagai tersangka pada kasus kecelakaan di tol Jagorawi KM 3+350 arah Bogor pada Selasa, 1 Januari 2013, sekitar pukul 05.45. Mobil BMW X5 dengan pelat nomor B-272-HR, yang dikemudikannya, menabrak Daihatsu Luxio (dengan pelat nomor F-1622-CY) dari belakang.

Dalam tabrakan tersebut, dua penumpang Luxio meninggal dunia setelah terlempar keluar dari mobil, yaitu Harun, 57 tahun, dan seorang balita Muhammad Raihan, 14 bulan. Selain itu, tiga orang lainnya mengalami luka-luka, yaitu Enung, Supriyati, dan Rifai. []



Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus-kasus kecelakaan tersebut?

  1. Kita telah berhati-hati, bisa saja orang lain yang ceroboh. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu iringi setiap langkah dengan doa dan usaha yang sesuai.
  2. Kecelakaan bisa mengakibatkan seseorang meninggal dunia atau cacat tetap. Jika orang tersebut adalah pencari nafkah dalam keluarga, otomatis keluarganya akan kehilangan salah satu atau bahkan satu-satunya sumber penghasilan. Jadi hendaknya kita tidak lupa untuk membentengi sumber penghasilan keluarga kita dengan asuransi jiwa dan kecelakaan.

Mengetahui kebutuhan Uang Pertanggungan Asuransi




Jika anda memiliki penghasilan 5 juta per bulan, berarti nilai ekonomis diri anda adalah 5 juta per bulan. Selama anda hidup dan bekerja, uang 5 juta rupiah tiap bulan akan bisa anda bawa pulang ke rumah.

Tapi bagaimana jika anda tidak ada, masihkah keluarga anda memperoleh uang 5 juta per bulan?

Jawabannya ada empat kemungkinan:

    1. Tidak, jika anda tidak punya asuransi jiwa.
    2. Tidak, jika anda punya asuransi jiwa tapi uang pertanggungannya tidak memadai.
    3. Ya, jika anda punya asuransi jiwa dan uang pertanggungannya memadai.
    4. Ya, jika anda punya aset yang sangat banyak sekali.

Mari kita singkirkan kemungkinan keempat, karena kalau anda punya aset yang bejibun, mestinya penghasilan bulanan anda lebih dari 5 juta.

Tinggal tiga kemungkinan. Dan melihat kemungkinan kedua, tampak bahwa punya asuransi jiwa saja belum tentu cukup. Lihat dulu UP-nya, mampukah dia menggantikan uang yang rutin anda serahkan kepada keluarga anda.

Berapa itu?

Sederhananya, UP anda harus menghasilkan “bunga” atau “retur” sebesar penghasilan anda jika uang tsb disimpan saja di suatu instrumen investasi yang tergolong aman (misalnya deposito, reksadana pendapatan tetap, dan obligasi atau sukuk pemerintah).

Jadi, berapa itu?

Deposito, RDPT, dan Obligasi/Sukuk

Jika keluarga anda tidak tahu cara menyimpan uang selain di bank, di mana deposito adalah instrumen yang paling besar bunganya, yaitu sekitar 6% setahun untuk saat ini, maka perhitungannya seperti ini: 5 juta x 12 (disetahunkan) sama dengan 60 juta. 60 juta dibagi 0,06 (6%), sama dengan 1 miliar.

Jadi UP jiwa yang setara dengan nilai ekonomi diri anda adalah 1 miliar.

Jika keluarga anda tahu cara berinvestasi melalui RDPT (Reksa Dana Pendapatan Tetap), yang saat ini bisa memberikan retur sekitar 8% setahun, maka cara menghitungnya seperti ini: 5 juta x 12, sama dengan 60 juta. 60 juta dibagi 0,08, sama dengan 750 juta.

Jadi, anda boleh mengambil UP jiwa sebesar 750 juta, dengan catatan keluarga anda sudah paham apa itu reksadana.

Jika keluarga anda tahu cara berinvestasi melalui obligasi atau sukuk ritel keluaran pemerintah (ORI atau SUKRI), yang saat ini bisa memberikan bunga sekitar 10% setahun, maka cara menentukan UP jiwa anda adalah begini: 5 juta x 12, sama dengan 60 juta. 60 juta dibagi 0,1, sama dengan 600 juta.

Jadi, UP jiwa anda bisa juga hanya sebesar 600 juta, dengan catatan: pesankan kepada keluarga anda bahwa jika anda meninggal dunia, uang 600 juta itu agar dibelikan obligasi atau sukuk.

Deposito dan RDPT bisa dibeli setiap saat, tapi ORI (Obligasi Republik Indonesia) dan SUKRI (Sukuk Ritel) hanya bisa dibeli pada waktu-waktu tertentu saat ada penawaran dari pemerintah.

Beberapa Penyesuaian

Cara penghitungan ini belum menyertakan beberapa faktor:

    1. Utang
    2. Inflasi
    3. Naiknya penghasilan anda seiring meningkatnya karir
    4. Bertambahnya aset anda seiring tumbuhnya investasi anda
    5. Turunnya biaya hidup karena berkurangnya satu anggota keluarga, yaitu anda.
    6. Turunnya biaya hidup karena keluarnya anggota keluarga, misalnya anak telah menikah.

Untuk menyesuaikan UP dengan utang, tambahkan UP jiwa anda sebesar utang anda. Jika anda punya utang KPR 200 juta, maka UP 1 miliar tambah 200 juta, jadi 1,2 miliar.

Untuk menyesuaikan UP dengan inflasi, ada dua cara: Pertama, lebihkan UP jiwa anda dari yang seharusnya, mungkin sekitar 10 atau 20%. Kedua, tinjau kembali UP jiwa anda setiap lima atau sepuluh tahun.

Untuk menyesuaikan UP dengan naiknya penghasilan anda, ada dua cara juga, sama dengan cara di atas.

Untuk menyesuaikan UP dengan bertambahnya aset anda, tinjau kembali UP jiwa anda setelah 5, 10, 15, atau 20 tahun. Jika aset anda bertambah, UP tidak perlu ditambah. Jika aset anda bertambah signifikan, bisa jadi UP perlu dikurangi. Jika aset anda tetap, lihat faktor lainnya.

Untuk menyesuaikan UP dengan berkurangnya satu anggota keluarga, maka tidak perlu melakukan apa-apa, karena meski anggota keluarga berkurang, biaya hidup biasanya naik. Demikian juga jika anak anda telah menikah.

Asuransi Jiwa Berjangka vs Asuransi Jiwa Plus Investasi


asuransi


Di antara berbagai jenis produk asuransi, menurut saya hanya dua yang layak dipertimbangkan, yaitu term life (asuransi jiwa berjangka) dan unit link (asuransi jiwa plus investasi). Jenis asuransi yang lain, yaitu whole life (asuransi jiwa seumur hidup) dan endowment (dwiguna, asuransi jiwa plus tabungan, biasanya dipakai untuk dana pensiun atau dana pendidikan) terlalu mahal preminya dan manfaatnya lebih kecil.

Banyak perencana keuangan menyarankan untuk memisahkan asuransi dan investasi. Asuransinya ambil term life, investasinya boleh di mana saja (reksadana, emas, saham, dll). Saya setuju, tapi tidak semua orang cocok dengan saran ini.

Selain itu, setelah saya menggali berbagai kemungkinan yang ada di unit link, ternyata preminya tidak berselisih jauh dibandingkan term life untuk mendapatkan manfaat yang sama. Malah beberapa produk term life masih lebih mahal dibandingkan unit link ini.


Kekurangan Term Life

Jadi, yang saya tahu term life lebih murah ketimbang unit link, tapi dengan beberapa catatan:

1.  Murah hanya pada awalnya atau selama masa kontrak (5, 10, 20 tahun). Pada saat perpanjangan preminya akan naik berlipat-lipat. Oleh karena itu, kalau anda memutuskan mengambil term life, minta juga ilustrasi berapa preminya jika asuransi diperpanjang.

2.  Hanya bisa bayar tahunan. Bayar tahunan berarti keluar uang sekaligus banyak, misalnya 3 atau 5 juta tergantung manfaat proteksinya. Bagi orang yang uangnya berlimpah, ini tak masalah. Tapi tidak semua orang punya uang sebanyak itu. Kalaupun punya, mungkin masih ada keperluan lain yang juga penting. Selain itu, selisih uang yang ada bisa juga dipakai untuk bisnis atau investasi. Siapa tahu hasilnya bisa menutupi premi bulan berikutnya. Biasanya orang mengambil term life dengan tujuan agar bisa berinvestasi sendiri. Bagaimana mau investasi, kalau belum apa-apa uangnya sudah diambil oleh asuransi.

3.  Beberapa produk term life mensyaratkan tes kesehatan saat perpanjangan sehingga jika kesehatan anda menurun, perpanjangan asuransi anda belum tentu diterima. Oleh karena itu, kalau anda mengambil term life, cari yang ada garansi perpanjangannya.

4.  Kalau ditambah rider, seperti kecelakaan dan sakit kritis, belum tentu ridernya tersedia. Selain itu, belum tentu tarif ridernya murah juga.

5.  Bagi yang peduli dg nilai-nilai syariah: term life umumnya bukan produk syariah. Memang sudah ada yang syariah, tapi silakan cek preminya.




Kelebihan Unit Link

Unit link  mengenakan premi berbeda beda bergantung dari tiap perusahaan Asuransi, misal kita ambil salah satu yaitu dari Alianz premi sekitar 355 ribu per bulan untuk mendapat UP jiwa 1 miliar, tanpa rider apa pun. Manfaat ini berlaku untuk pria usia 30 tahun, tidak merokok, dan pekerjaannya dalam ruangan.

Silakan anda survai, adakah produk term life yang bisa memberikan premi seperti ini untuk UP 1 miliar? Jika dihitung per tahun, memang ada yang lebih murah. Tapi ini per bulan.


Kelebihannya:
  1. Preminya flat, tidak naik sampai kapan pun. Malah anda berkesempatan mendapatkan masa bayar lebih pendek (10 tahun) jika hasil investasi sesuai ilustrasi dengan asumsi tertinggi.
  2. Cara bayar bulanan cocok untuk orang yang keuangannya terbatas atau mereka yang merencanakan keuangan dengan periode bulanan (karena gajinya juga bulanan).
  3. Masa bayar bisa lebih pendek untuk masa proteksi yang lebih panjang.
  4. Tidak usah memikirkan perpanjangan. Masa berlaku proteksi sampai 70 tahun (UP 1 miliar), dan masih ada sisa UP 340 juta sampai usia 99 tahun.
  5. Tidak usah medical check up (untuk UP 1 miliar ke bawah)
  6. Kalau mau ditambah rider, tersedia bermacam rider yang bagus dan lebih murah.
  7. Maslahat meninggal akan lebih besar dari 1 miliar karena ditambah hasil investasi. Dengan begini, UP jiwa anda tidak usah diupgrade, karena sudah ada tambahannya dari hasil investasi. Anda juga, kalau mau dan butuh banget uang, bisa mengambil sebagian hasil investasi itu selagi masih hidup.
  8. Produk sudah sesuai syariah, baik dari segi akad maupun penyaluran dana investasi.

Ini menurut Gue ya ... jadi Anda bebas memilih, karena gue bukanlah seorang Agen Asuransi, tapi jika Anda ingin berkunsultasi masalah Asuransi sebisa mungkin Akan saya bantu.

Apa Prioritas Anda ?? sebelum memilih Asuransi !!!!!


asuransi



Sebelum memutuskan untuk memilih Asuransi Sebaiknya Anda Intropeksi diri dulu apa yang akan anda jadikan Prioritas dalam memproteksi diri anda sendiri..... misalkan Anda sering sakit sakitan tentunya yang menjadi prioritas adalah yang menyangkut kesehatan, nah jika anda memilih Asuransi pendidikan itu namanya salah menempatkan prioritas Anda.

Prioritas asuransi diukur dari dampaknya pada keuangan kita, bukan dari frekuensi kejadiannya. Ada yang kejadiannya sering, misalnya pilek atau batuk biasa, tapi karena dampak keuangannya kecil, tanpa asuransi pun tak masalah. Tapi ada peristiwa yang kejadiannya mungkin hanya sekali, namun bekas yang ditinggalkannya tak terhapuskan seumur hidup, baik dari segi fisik maupun keuangan.

Jika akibat dari satu kejadian itu membuat seseorang langsung jatuh dalam kemiskinan, aset-aset terjual atau tergadai, terjerat dalam belitan utang, sumber penghasilan terputus, hingga keluarga terbenam dalam kesedihan dan kehinaan, maka risiko itulah yang harus kita prioritaskan untuk diasuransikan.

Ketika kita memutuskan untuk berasuransi, berpikirlah – walau sejenak saja – untuk risiko-risiko yang paling buruk. Yaitu risiko-risiko yang butuh biaya sangat besar.


Apa saja?

Berdasarkan dampak keuangannya dan preminya, setidaknya ada 4 jenis proteksi yang merupakan prioritas untuk dimiliki, yaitu asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia, rawat inap, penyakit kritis, dan cacat. Jika anda telah memiliki empat proteksi ini, silakan mau nambah asuransi lain juga (rumah, mobil, rawat jalan, rawat gigi, persalinan, dll), kalau memang ada dananya.



Asuransi Meninggal Dunia


Asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia menjadi prioritas pertama karena: selama masih hidup, akan selalu ada harapan. Tapi jika sudah dijemput maut, tak ada lagi yang bisa dikatakan.

Asuransi jiwa wajib bagi pencari nafkah dalam keluarga, biasanya ayah, dan juga ibu jika bekerja. Jika dana yang tersedia terbatas, inilah yang harus dibeli terlebih dahulu.

Kematian seorang ayah atau ibu berdampak pada putusnya sumber penghasilan karena tidak ada lagi orang yang mencarikan nafkah untuk keluarga. Kesedihan paling besar dialami oleh si anak. Terkadang dia harus dipelihara di rumah saudara atau bahkan dititipkan di panti asuhan. Tentunya kita tidak mau anak kita merepotkan orang lain, bukan?


Asuransi Kesehatan Rawat Inap


Setelah proteksi dasar terpenuhi, prioritas berikutnya adalah asuransi kesehatan rawat inap untuk seluruh anggota keluarga. Produk asuransi kesehatan ada yang dipasangi rider (proteksi tambahan) rawat jalan, rawat gigi, atau persalinan. Tapi yang prioritas hanyalah rawat inap. Yang lainnya terlalu mahal untuk dibeli, sementara manfaatnya tak seberapa, dan tanpa asuransi pun masih bisa ditanggulangi.


Asuransi kesehatan rawat inap memberikan penggantian biaya pengobatan sesuai yang dijanjikan dalam polis jika peserta mengalami rawat inap di klinik atau rumah sakit. Biaya pengobatan penyakit yang memerlukan rawat inap sangat bervariasi tergantung penyakitnya, tapi pada umumnya cukup memberatkan jika harus ditanggung sendiri.


Saat ini sebagian besar orang telah memiliki askes rawat inap. Mereka yang bekerja di sektor formal (PNS, Polri, TNI, dan karyawan swasta), boleh dikata semuanya telah memiliki askes. Sedangkan untuk masyarakat secara umum, khususnya kalangan menengah-bawah, pemerintah telah menyediakan berbagai jaminan kesehatan melalui program semacam Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah), Jamkesos (Jaminan Kesehatan Sosial), Jampersal (Jaminan Persalinan), KJS (Kartu Jakarta Sehat), hingga BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial).

Oleh karena itu, jika anda beruntung termasuk pemilik askes (apa pun jenis dan namanya), anda dapat melewatkan bagian ini dan melanjutkan ke prioritas asuransi berikutnya.


Asuransi Penyakit Kritis


Dari segi dampak keuangan, penyakit kritis dapat menimbulkan dampak yang lebih besar ketimbang kematian. Apalagi jika penyakit kritis tersebut berlangsung berkepanjangan atau tidak tersembuhkan, yang repot bukan hanya penderita, tapi juga keluarga, para kerabat, hingga teman-temannya. Contohnya, orang yang terkena stroke, jika tidak sembuh, dia jadi lumpuh dan tidak bisa bekerja seperti sebelumnya. Tapi dia harus tetap berobat sementara biaya hidup tak bisa ditunda pemenuhannya.


Sayangnya banyak yang belum menyadari pentingnya proteksi penyakit kritis. Mereka merasa asuransi kesehatan saja sudah cukup. Mungkin jika askesnya berkategori premium, biaya ratusan juta hingga miliaran bisa ditanggung, tapi askes premium harganya tak akan terjangkau oleh kebanyakan orang. Dan sebagus-bagusnya askes, tak ada yang memberikan uang tunai untuk nasabahnya. Padahal orang yang terkena penyakit kritis, dia bukan hanya butuh penggantian biaya pengobatan, tapi juga sejumlah uang untuk biaya hidup dan lain-lainnya.


Proteksi penyakit kritis tidak dimaksudkan untuk menggantikan asuransi kesehatan. Proteksi penyakit kritis menambal apa yang tidak dapat diberikan askes, yaitu uang tunai dalam jumlah besar (ratusan juta hingga miliaran rupiah).



Asuransi Cacat (Sebagian maupun Total, karena Sakit ataupun Kecelakaan)


Cacat bisa disebabkan kecelakaan ataupun penyakit. Dalam hal cacat tetap total, kejadian ini sama akibatnya dengan meninggal dunia dan beberapa jenis penyakit kritis, yaitu putusnya penghasilan karena tidak mampu lagi bekerja.


Di sini, tersedia dua proteksi yang penting, yaitu ADDB (Accident Death and Disability Benefit) dan TPD (Total Permanent Disability). ADDB menanggung risiko cacat (sebagian maupun total) akibat kecelakaan, sedangkan TPD menanggung risiko cacat total akibat sakit maupun kecelakaan.

Lihat dipikirkan yang matang sesuai kebutuhan Anda....

Apakah Masih Perlu Asuransi Lain????


Asuransi Princes


Saya sudah punya asuransi, kesehatan saya dicover oleh perusahaan.  Masih perlukah saya menambah asuransi saya ? Pertanyaan di atas perlu dijawab dengan pertanyaan sebagai berikut :

  1. Jenis asuransi apa yang Anda miliki ?
  2. Berapa besar pertanggungan yang Anda dapatkan dari asuransi yang ada ?
  3. Berapa banyak perusahaan Anda akan mengcover kesehatan Anda ?
  4. Apakah Anda akan terus di perusahaan tersebut sampai dengan pensiun ?

Atau bisa juga diilustrasikan sebagai berikut, Anda sudah memiliki hp, apakah perlu menambah satu buah hp lagi ? Dengan berkembangnya jaman dan juga resiko, Anda perlu terus memantau asuransi Anda dari tahun ke tahun. Asuransi yang Anda beli 10 tahun lalu mungkin sudah tidak sesuai jamannya lagi atau manfaat yang Anda dapatkan sudah tidak sesuai dengan situasi saat ini baik dari segi proteksi maupun dari jumlah uang pertanggungannya. Demikian pula bila fasilitas dari perusahaan, apakah Anda yakin akan bekerja pada perusahaan yang sama sampai dengan pensiun.

Lalu bagaimana setelah pensiun, apakah Anda sudah memikirkannya karena pada saat tersebut itulah resiko semakin meningkat dan apabila pada saat itu Anda baru mengambil asuransi tambahan maka premi akan menjadi sangat mahal. Sangat penting memiliki asuransi pribadi walau sudah dicover oleh perusahaan. Beberapa tips ini sangat membantu Anda jika ingin memiliki asuransi pribadi diluar perusahaan:

Perhatikan manfaat apa saja dan berapa besarnya yang didapat dari perusahaan. Mis : Manfaat kesehatan atau kecelakaan saja, atau juga mencakup rawat jalan dan kematian ? Dan berapa besar proteksi dari masing2 manfaat, apakah sesuai dengan kebutuhan anda?
Jika Anda masih ada kemungkinan pindah ke perusahaan lain, yakinkan anda memiliki asuransi pribadi. Karena belum tentu perusahaan baru anda akan memberikan manfaat yang sama
Untuk asuransi kesehatan,pastikan anda bisa melakukan double claim antara ke kantor dan perusahaan asuransi.

Jagalah jangan sampai asuransi Anda kadaluarsa atau dengan kata lain, ketinggalan jaman !

Agent Asuransi kok Takut ditolak !!!!!!


asuransi


Tibalah saatnya masalah datang bertubi tubi dalam kehidupan ini, kesana kemari selalu ditolak dan ditolak, haruskan kita menjadi lemah dengan penolakan penolakan itu????

Semua bergantung pada kekuatan Niat kita, sejauh mana kita akan melangkah yang terpenting persiapkan pagi hari dengan sebuah plaining kerja ataupun prospek yang sangat matang, jangan amburadul buat langkah.

Begitu pula nih kawan yang gak pernah berhenti terus kejar kejar pak Bagong, karena my friends sudah punya komitment untuk menjadi yang lebih baik.

Pak Bagong  pada suatu waktu pernah menunda-nunda untuk masuk asuransi. Dia mengakui bahwa dia menunda-nunda tersebut karena menurut dia asuransi itu nggak jelas keuntungannya.

Dia merasa nanti setiap bulan harus bayar premi sedangkan untungnya apa? Dapat uang setelah saya mati. Kan nggak enak? Suatu hari dia bisa mau masuk asuransi karena agen asuransinya sangat ulet, sakti mandraguna. Padahal, saat di telepon, agennya sudah dipersulit dengan berbagai macam alasan seperti sedang sibuk, lagi ke luar kota, dll.

Tapi pada suatu hari tahu-tahu agen asuransinya nongol di rumahnya. Pak Bagong-pun bertanya-tanya, “Jangan-jangan karyawan saya ngasih bocoran ini.” Karena nggak enak hati akhirnya Bagong menerimanya juga.


Bagong  heran sama agen tersebut, kenapa kok bisa tangguh seperti itu. Pak Bagong-pun menanyakan ke agen tersebut, “Kenapa sih kalau orang lain yang saya tolak, hanya sekali dua kali. Tapi anda kok bisa dahsyat terus menerus?” Sang agen tersebut pun lalu bercerita bahwa dulunya dia juga tidak setangguh ini.  “Dulu pada waktu saya menawarkan asuransi ke seseorang, orang tersebut selalu menunda-nunda karena kesibukannya. Padahal sudah hampir ‘YA’, tapi kemudian sibuk lagi dan sibuk lagi akhirnya saya merasa nggak enak hati, saya kendur, & saya lupa untuk tangguh.

Saya pikir nanti kalau butuh, dia akan telpon sendiri. Dan orang ini adalah saudara saya sendiri.” Si agen melanjutkan ceritanya, “Setelah itu, dia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Dia adalah saudara saya. Pada waktu datang melayat, saya menangis lebih kenceng daripada istrinya.

” Bagong bertanya, “Lho kenapa kamu menangis lebih kenceng daripada istrinya?” Karena saya datang cuma membawa ucapan duka dan uang secukupnya serta bunga doang. Seharusnya saya datang membawa uang 2 Milyar.

 Mulai hari itu saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa karena yang saya jual ini penting maka saya harus bersungguh-sungguh & tidak akan menunda untuk ketemu walapun setelah itu saya ditolak, itu terserah dia. Pokoknya akan saya uber karena ini penting untuk dia.

Nah kalau saya lihat pak Bagong,  ini mirip dengan saudara saya sendiri.” Menurut Bagong, orang menunda-nunda itu karena dia tidak tahu apa untungnya dan apa ruginya. 80% motivasi datang karena menghindari sengsara. Orang kurang termotivasi jika hanya membayangkan keuntungan sekian persen. Orang jauh lebih takut & lebih tergerak hatinya jika membayangkan secara tiba-tiba mendapat sengsara.



Namanya Juga Pak Bagong, belom lagi entar kalau ketemu pak Petruk dan pak Semar... pasti akan lebih seru dan sekaliyan main wayang,..... kan Bisa bikin Wayang Asuransi.... he he he

Sukses Seorag Sales Asuransi.

asuransi

Selesai sudah saya membaca buku "Mimpi Sejuta Dolar Merry Riana" karya Alberhiene Endah. Membaca buku ini layaknya membaca sebuah novel kisah nyata. Enak, mengalir, dan menggugah.

Tokoh utamanya tentu saja Merry Riana dengan setting, Singapura. Buku ini berkisah tentang perjuangan menuju sukses seorang Merry Riana, yang kini menjadi motivator perempuan nomor satu di Asia Tenggara, dari Jakarta hingga Singapura.

Kisah sukses Merry Riana sebenarnya tidak lain adalah kisah sukses seorang sales asuransi atau kalau di Singapura disebut Konsultan Keuangan karena yang mereka jual bukan hanya asuransi tetapi produk-produk keuangan lainnya seperti deposito, kartu kredit dan sebagainya. Yah, dia menekuni usaha ini hingga menghantarnya menggapai 1 juta dolar pada umur yang relatif begitu muda, 26 tahun.

Pekerjaan sebagai sales asuransi kadang-kadang tidak dianggap sebagai pekerjaan elit, terutama di Indonesia. Bahkan, tidak jarang mereka dicibir karena suka mengusik dan mengganggu ketenangan orang.

Tetapi Merry Riana telah menunjukkan dan mebuktikan bahwa pekerjaan itu mulia dan bisa menjadi kaya raya. Pekerjaan itu jauh lebih menggiurkan daripada kerja kantoran yang hanya mengandalkan gaji bulanan yang tidak seberapa dan amat sangat jarang naik. Gaji sales asuransi sangat tergantung komisi. Keberhasilan sales asuransi tidak diraih dengan mudah.

Tidak banyak orang bisa mencapai itu. Dan, Merry Riana adalah satu di dalam sedikit orang sukses itu. Resolusi untuk bebas secara finansial sebelum umur 30 tahun, motivasi yang tinggi, semangat yang menggebu, kerja keras hingga larut malam tanpa kenal lelah, ketajaman pikiran dan hati, serta hubungan yang intim dengan Yang Di Atas menjadi kata-kata kunci kesuksesannya.

Kisah Sukses

Buku ini diawali dengan kisah keberangkatan Merry Riana dari Jakarta ke Singapura pada 1998. Setelah tamat SMA Ursula, dia tadinya hendak kuliah di Universitas Trisakti. Proses pendaftaran sudah dilakukan. Tiba-tiba pecah kerusuhan. Sebagai etnis Tionghoa yang menjadi sasaran amuk massa ketika itu, orang tua Ria, sapaan akrabnya, mengubah haluan demi masa depan putrinya.

Meski ekonomi terbatas, orang tuanya memutuskan untuk melanjutkan kuliah sulung dari tiga bersaudara itu ke luar negeri dan pilihannya Singapura. Ria kuliah di Nanyang Technological University (NTU). Untuk biaya kuliah di situ, Ria dan beberapa WNI yang kuliah di sana mendapat pinjaman dari Development Bank of Singapura yang kalau dirupiahkan sebesar 300 juta.

Uang ini dipakai untuk membayar kuliah hingga lulus, uang asrama, dan uang saku. Ria haris menyiasati uang yang begitu sedikit agar bisa bertahan dan tidak membebani orang tuanya di Jakarta.

Tahun pertama, Ria konsentrasi pada kuliah. Biaya hidupnya hanya dengan 10 dolar per minggu. Untuk itu dia harus makan mi instan yang dibawa dari Jakarta setiap pagi dan malam sedangkan siang dia hanya makan setangkup ruti tawar.

Pada tahun kedua kuliah, pada masa liburan, Ria tidak berlibur ke Jakarta tetapi mencoba mencari uang tambahan dengan menjual brosur dengan gaji 3-5 dolar Singapura per jam. Kemudian dia bekerja di toko bunga. Uang hasil jerih payahnya itu tidak dipakai untuk berfoyah-foyah tetapi ditabung. Uang tabungannya makin banyak ketika dia kerja magang di perusahan terkenal di negeri singa itu dengan gaji 750 dolar per bulan.

Pengalaman susah ini kemudian melahirkan resolusi dalam dirinya. Tepatnya, ketika dia merayakan ulang tahun ke-20, dia membangun resaolusi bahwa dia mau merdeka secara finansial sebelum umur 30 tahun.

Menjelang akhir kuliah di NTU, Merry Riana, sempat terjun ke bisnis Multi Level Marketing (MLM). 200 dolar hilang. Dia juga mencoba main saham. Tapi gagal. Menjelang akhir kuliah, dia bersama pacarnya yang kini menjadi suaminya Alva Tjenderasa, melirik bisnis mencetak skripsi mahasiswa NTU dan pembuatan kaus. Tetapi bisnis ini tidak jadi karena sudah dikuasai pemain besar.

Merry Riana pernah mau menjadi distributor tunggal Tiansi di Singapura. Merry Riana sudah mengkondisikan teman-teman kampusnya untuk menjadi down line-nya untuk bisnis MLM yang marak di Indonesia itu. Tetapi akhirnya, Tiansi gagal masuk Singapura.

Merry Riana dan Alva adalah penyuka buku-buku motivasi sekelas Robert Kiyosaki dan Anthony Robbins. Bahkan, keduanya mengeluarkan dana lebih dari 2.000 dolar untuk mengikuti seminar Robbins di Singapura. Bahkan, Merry Riana berhasil berfoto dengan idolanya itu. Usaha ini tidak mudah. Tetapi tekadnya yang kuat hingga mimpi berfoto bersama Anthony Robbins terwujud.

Setamat kuliah, Merry Riana dan Alva memilih untuk berwirausaha. Mereka tidak mengikuti arus seperti teman-temannya yang bekerja di perusahan dengan gaji 2.500-3.000 dolar per bulan. Keduanya memilih menjadi sales asuransi.

Mereka menghubungi nasabah dari kantor, tetapi sering kali gagal. Lalu mereka pergi ke mal-mal untuk memprospek calon nasabah. Eh malah diusir satpam. Keduanya lalu ke stasiun MRT. Satu dua orang berhasil mendengar penjelasan mereka. Tetapi tidak sampai deal. Mereka lalu mengatur strategi dan siasat untuk menawarkan produk keuangan. Target pun dipasang. Harus wawancara 20 orang per hari. Target itu harus dipenuhi, meski badan lelah. Tak jarang, Ria menangis karena terlalu capek. Saking ngototnya, kadang-kadang target itu baru terpenuhi dini hari.

Dari 20 orang yang diprospek itu, rata-rata lima orang bisa diprospek lebih lanjut. Dan dari lima orang itu, satu orang bisa deal. Sedikit demi sedikit usaha ini mulai menuai hasil. Tahun pertama, Merry Riana berhasil mencapai target, transaksi 100.000 dolar. Tahun kedua, target yang sama tercapai juga. Setelah itu Merry Riana dengan sendirinya menjadi manajer dan berhak merekrut anak buah.

Puncaknya ketika Merry Riana berhasil meraih 1 juta dolar pada umur 26 tahun, lebih cepat empat tahun dari resolusinya ketika merayakan ulang tahun ke-20. Kesuksesan itu menghantarnya terpilih sebagai Presiden Star Club. Inilah yang membawa dia diliput secara luas media massa di Asia Tenggara. Dia kemudian menjadi pembicara seminar di mana-mana dan menjadi motivator ulung.

Kematian datang kepada siapa saja


Asuransi


Di suatu pagi, seorang suami pergi bekerja. Pada perjalanan ke pabrik, terjadi kecelakaan dan dia meninggal seketika. "Siapakah yang akan menyampaikan berita tragis ini kepada istrinya?" Terjadi perdebatan antara polisi dan pengemudi ambulan. Akhirnya polisi mengetuk pintu dan menyampaikan kabar itu kepada istrinya dan mengatakan bahwa jasad suaminya berada di dalam ambulan. Istri dan anak perempuannya menjerit dan istrinya lalu jatuh tak sadarkan diri. Kematian datang kepada siapa saja dan pada setiap saat tanpa peringatan sebelumnya.

Dua minggu kemudian, para tetangga melihat sebuah truk berhenti di depan rumah itu. Truk dari toko furniture di daerah tersebut. Mereka mengambil sofa, meja makan, lemari besar, bahkan ranjang "double-bad"!. Para tetangga mengerti bahwa "cicilan lunak" ternyata sudah tidak lunak lagi pembayarannya!

Beberapa minggu kemudian, mereka melihat lagi kejadian lain. Empat pria yang terlihat beringas mendatangi rumah itu. Si janda yang sudah jarang terlihat, keluar menuju pagar menemui mereka. Mereka memperlihatkan secarik kertas mirip surat sambil menunjuk ke arah mobil Toyota Corolla milik almarhum. Si janda dengan rela memberikan kunci mobil kepada mereka. Ia kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Para pria itu mendorong mobil untuk menghidupkan mesin lalu pergi. Mereka disuruh perusahaan pembiayaan untuk menarik kembali mobil itu karena cicilan 2 bulan terakhir belum dibayar.

Beberapa hari kemudian, para tetangga melihat lagi loper koran memanggil-manggil si janda. Kali ini mereka tidak dapat lagi mengenalnya. Ia menjadi kurus. Sungguh kasihan. Ia tak lagi bergaul. Bahkan anaknya yang berusia 5 tahun tidak bermain lagi dengan teman-temannya. Loper itu minta agar tagihannya diselesaikan. Si janda berusaha menjelaskan dengan suara yang rendah karena merasa mat malu atas situasi yang dihadapinya, namun loper yang tak berperasaan itu meninggikan suaranya. Janda itu memintanya untuk menunggu. Ia kembali ke dalam rumah. Para tetangga dapat mendengar dengan jelas suatu benda yang pecah, sepertinya terbuat dari bahan beling atau plastik. Kemudian terdengar lagi tangisan anak perempuannya, "Mama, jangan ambil uang saya". Sudah jelas, ibunya telah memecahkan celengan tabungan anaknya. Ia membayar loper koran itu dengan uang recehan!

Itulah saat terakhir para tetangga melihat si janda. Ia takut bertemu dengan orang yang asing dan selalu mengunci diri. Bahkan gadis kecilnya dilarang untuk bermain dengan anak tetangganya maupun pergi ke taman tempat bermain, suatu yang sebenarnya ia rindukan. Bahkan hingga penjual es krim pun merasa kehilangan anak gadis yang manis ini.

Sampai di suatu siang yang panas, sebuah Motor Honda Beat warna Hitam, berhenti di depan rumahnya. Pengendaranya, seorang pria rapi yang tampak menyenangkan, mengetuk pintu rumah. Setelah beberapa saat tanpa ada tanggapan, ia melihat sekelilingnya dan terkejut karena kedatangannya diperhatikan oleh para tetangga. Mereka melambaikan tangannya sebagai isyarat mengatakan "Tidak ada orang di rumah." Karena mencium hal yang kurang beres, orang asing itu mendatangi rumah tetangga di sebelahnya dan memperkenalkan diri sebagai Agen Asuransi. Ia mengatakan bahwa kedatangannya adalah untuk memberikan kepada si janda, uang asuransi yang menjadi haknya.

Mendengar hal itu, para tetangga segera berkata, "Dia ada, dia ada di rumah". Salah satu wanita itu segera lari memutar ke belakang rumah dan memberitahukan kepada si janda untuk membuka pintu bagi orang yang datang menyelamatkannya. Segera pintu depan terbuka dan si agen tidak bisa percaya bahwa dialah wanita yang ditemuinya setahun yang lalu. Wanita ini benar-benar nampak menyedihkan.

Saat itu para tetangga sudah berkerumun di depan rumah. Si agen berkata, "Jangan katakan ibu tidak kenal saya. Saya pernah datang minum teh bersama almarhum suami ibu, ingat? Waktu itu saya mau menjual polis pada almarhum tapi ibu keberatan. Apakah ibu tahu bahwa keesokannya ia membeli polis senilai Rp.500 juta? Polis ini masih berlaku. Maafkan saya karena baru datang, tapi saya tidak menerima kabar sebelumnya. Suami ibu meminta saya merahasiakan hal asuransi ini. Mulai sekarang ibu tidak perlu kuatir lagi. Kami akan menjaga ibu dan anak ibu seperti yang sudah kami janjikan kepada almarhum suami ibu".

Janda itu tidak bisa mempercayainya. Air mata kebahagiaan jatuh ke pipinya saat ia memeluk anaknya dengan lega. Kemudia ia jatuh berlutut dan berterima kasih kepada agen itu. Beberapa tetangga datang mengucapkan terima kasih dan pujian kepada si agen atas kebaikan yang dilakukannya. Agen itu melihat beberapa di antara mereka turut meneteskan air mata.

Pekerjaan Agent Asuransi yang Jujur adalah PEKERJAAN YANG MULIA. Saya sulit melukiskan perasaan saya ketika meninggalkan rumah itu. Masa depan mereka telah terjamin. Anak gadis kecil yang manis itu kini dapat bermain lagi dengan teman-temannya. Uang untuk pendidikan telah tersedia. Ibunya dapat hidup tenang dan bermartabat. Masih banyak keluarga lain yang mungkin ibunya akan menjadi janda seperti tadi. Mereka tidak mungkin datang langsung ke perusahaan asuransi untuk membeli asuransi jiwa. Maka para agen, harus pergi ke medan pertempuran untuk mengatasi keberatan yang mereka buat-buat dan menjual manfaat-manfaatnya demi kepentingan mereka.

Jadi Agen Asuransi ???? Untuk Apa...




Bila Anda seorang agen asuransi yang sedang membutuhkan banyak agen baru untuk membangun tim, pasti tidak setuju dengan judul tersebut ya?   Artikel ini menegaskan kepada Anda yang belum pernah masuk “dunia per-asuransi-an” agar TIDAK JADI AGEN ASURANSI.

Tugas utama agen asuransi tentunya: memberikan profit bagi perusahaan asuransi dengan cara menjual produk asuransi kepada nasabah.  Namun jika tujuan anda hanyalah jangka pendek dan hanya ingin mendapatkan komisi dari hasil penjualan produk asuransi tersebut, saran saya:  ambil profesi lain, JANGAN JADI AGEN ASURANSI.   Kenapa?  Sebab, ternyata komisi seorang agen asuransi sangat kecil sekali, sangat tidak sebanding dengan tanggung jawab yang harus di pikul. Komisi seorang agen asuransi sangat kecil prosentase nya dibanding seorang penjual teh botol sekali pun.

Jika seorang penjual teh botol membeli 1 botol seharga Rp. 1.500,- kemudian dijual dengan harga Rp. 3.000,- maka keuntungan atau komisi nya mencapai 100%.

Bagaimana dengan komisi atau keuntungan yang di dapat seorang agen asuransi..? Jika ada nasabah bayar premi 600 ribu, maka agen asuransi dapet komisi 20% dari 600rb = 120rb. Jika nasabah tersebut bayar selama 10 tahun, maka:

Total setoran adalah 600 ribu x 12 bulan x 10 tahun = 72 juta.

Jumlah komisi agen asuransi Tahun ke-1 dan ke-2  = 20% x 600rb x  24 bulan = Rp. 2.880.000,-.

Kemudian jumlah komisi tahun ke-3, 4, 5 =  5% x 600rb = Rp. 30.000,- x 36 bulan = Rp.  1.080.000,-

Maka total komisi adalah Rp. 2.880.000,- + Rp. 1.080.000,- = Rp. 3.960.000,-.

Bayangkan!  Komisi seorang agen asuransi, hanya 3,9 juta dari 72 juta…?  Kecil sekali bukan..?  Berapa persen komisi sebenarnya yang didapatkan seorang agen asuransi..? Menjadi agen asuransi butuh kesabaran ekstra, penolakan sudah menjadi makanan sehari-hari.

Padahal, tahukah Anda, bahwa tugas agen asuransi yang sebenarnya adalah lebih dari itu.  Lebih dari sekedar menjual produk asuransi kepada nasabah.

Hubungan antara agen asuransi dan nasabah adalah hubungan jangka panjang.  Setelah agen asuransi memperkenalkan produk, menjelaskan manfaatnya, dan mendaftarkan nasabah untuk memiliki proteksinya, masih ada tugas lain yang kelak menanti komitmen si agen.  Tugas berikut ini sangat penting dan akan sangat berarti bagi nasabah, yaitu: berkewajiban untuk melayani dan membantu nasabah yang bersangkutan berkaitan dengan berbagai hal terkait dengan asuransi yang dibelinya, termasuk ketika nasabah mau mengajukan klaim. Di sinilah agen asuransi berperan bukan hanya sebagai sales, tapi sebagai partner, pelayan, juga konsultan dari nasabah yang bersangkutan.  Hal ini yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh nasabah.

Hal lain yang menjadi tanggungjawab seorang agen asuransi yang tidak langsung dirasakan manfaatnya oleh nasabah: yaitu tanggungjawab moral untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya asuransi.  Masyarakat Indonesia masih sangat awam dengan perencanaan keuangan jangka panjang dan masih banyak yang tidak punya kesiapan dalam menghadapi resiko, sehingga adalah tugas kita sebagai agen asuransilah untuk membantu mereka menyiapkan perencanaan keuangan jangka panjang. Misalnya menyiapkan dana pendidikan, menyiapkan dana pensiun, belajar berinvestasi, menyiapkan diri saat menghadapi resiko misalnya penanggung nafkah keluarga meninggal, saat kecelakaan, saat cacat ataupun saat sakit.

Nah looo… Tidak mudah kan menjadi agen asuransi????

Oleh karena itu, saya sangat menyarankan anda menjadi seorang agen asuransi jika anda ingin membantu orang lain.  Masih banyak sekali tantangan dan peluang Anda membantu banyak orang punya proteksi penghasilan.  Suatu keindahan tersendiri saat Anda berhasil membantu 1 orang, karena Anda akan semakin bergairah untuk membantu lebih banyak lagi.  Semakin banyak Anda membantu orang lain untuk punya proteksi terhadap penghasilan mereka, insya Allah rejeki Anda akan mengalir deras…

Banyak orang yang bilang, ikut asuransi RUGI,  hanya buang-buang uang. Memang benar asuransi tidak akan bermanfaat saat kita sehat.  Tapi percayalah, bahwa asuransi akan SANGAT BERARTI pada saat kita membutuhkannya.

Setiap orang bekerja…bekerja…dan bekerja….lalu menabung… terkumpul uang banyak, beli rumah… mobil… tanah dan lain-lain.   Saat terkena sakit kritis… butuh uang yang banyak, semua yang diperjuangkan harus dijual untuk membiayai sakitnya.

Kalau punya asuransi…. maka asuransilah yang akan bayarin semuanya.
Custom Search