Translate this page to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Beli Pulsa Listrik Disini

www.opulsa.com

Di Kepung Mafia Kapitalisme Indonesia Susah Bangkit

 Situasi Politik DKI makin Memanas, Ahok orang jujur yang sejak awal tidak disukai DPR kini mulai di gerogoti, kemunafikan Para Ahli Politik Terus Menekan Perjuangan JOKOWI dan AHOK dikarenakan kedua orang Ini Penuh dengan Kejujuran, JOKOWI ahli Diplomasi, AHOK ahli Frontal dan Ketegasannya membuat Lawan Politiknya pada ingin menyingkirkan Kedua Tokoh ini.

Jokowi Ahok


Setelah lebih 350 tahun dijajah, Indonesia dengan bersusah payah akhirnya berhasil dimerdekakan pada 17 Agustus 1945 dari Belanda dan Jepang. Sang Proklamator kemerdekaan Indonesia itu adalah Ir Soekarno dan Muhammad Hatta.

Tak terhitung jumlah nyawa yang melayang. Yang jelas sebelum Indonesia merdeka, ribuan anak bangsa tewas dalam berbagai pertempuran melawan penjajah Belanda dan Jepang. Itulah pengorbanan besar para Pahlawan kita di Medan perang yang harus diingat sepanjang masa.

Sebagai generasi penerus bangsa, perjuangan keras para pahlawan dan orang tua kita terdahulu untuk memerdekakan bangsa Indonesia tersebut hendaknya jangan disia-siakan. Isilah kemerdekaan itu dengan berkarya nyata dan berguna bagi anak cucu kita ke depan.

Saya adalah cucu dari pejuang kemerdekaan itu, dan saya yakin anda juga demikian. Janganlah biarkan kakek dan nenek kita yang telah bersusah payah berjuang memerdekakan negeri ini menangis dari dalam kuburnya melihat kondisi bangsa Indonesia yang mengalami Degradasi berbangsa dan bernegara.

Betapa tidak, negeriku tercinta ini semenjak ditinggalkan tokoh Proklamator itu, kondisinya semakin memprihatinkan. Di kala sejumlah negara tetangga tengah sibuk berbenah diri dan maju, namun disitu pula Indonesia malah terus mengalami polemik dalam negeri. Inilai yang dinamakan nasib suatu bangsa.

Jikalau lah dulu Soekarno panjang umur, dan cita-citanya agar Indonesia menjadi Macan Asia terwujud, maka dipastikan bangsa ini menjadi bangsa terbesar di dunia. Suatu mimpi yang bukan sekedar angan-angan belaka, karena negeri ini memang serba berkecukupan dan kaya raya.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, tapi hanya Soekarno dan Hatta lah yang layak dikatakan sang Bapak Bangsa itu. Pemimpin yang benar-benar peduli terhadap negeri dan memiliki Integritas luar biasa terhadap bangsa dan negaranya.

Atas sepakterjangnya di kancah dunia, kedua tokoh besar ini begitu disegani para pemimpin dunia atas kepiawaian mereka melakukan sejumlah gebrakan besar dan mampu mengambil posisi dan simpati sejumlah negara-negara Asia.

Indonesia kala itu sangat diperhitungkan di belahan dunia, bahkan Amerika sendiri pun ketar ketir menghadapi Akrobat politik yang diperankan Soekarno dan Hatta. Seruan anti barat yang terus digencarkan kedua pemimpin ini, membuat Indonesia diperhitungkan negara adidaya beserta sekutunya itu.

Akibatnya, Soekarno yang dikenal sebagai presiden berkarakter keras dan tak mau didikte oleh barat ini selalu dibidik Amerika melalui inteligennya untuk segera dihabisi.

Dapat dibayangkan, bila Soekarno saat itu tidak di Gulingkan Soeharto dengan Sekutunya, maka bangsa ini tidak seperti saat ini. Bahkan Indonesia diperkirakan menjadi salah satu negara Super Power di dunia mengimbangi Amerika.

Soekarno terkenal dengan gaya diplomasinya yang khas, dan berkat kecerdasan otaknya, dia pun mampu menjadi pelopor berdirinya Gerakan Non Blok, suatu kelompok negara-negara yang tidak pro NATO yakni kelompok Amerika dan sekutunya maupun Pakta Warsawa yakni Uni Sovyet dan sekutunya.

Impian menjadi negara Super Power itu bukan sekedar angan-angannya. Bahkan Soekarno berikrar, melihat sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) negeri yang sangat berlimpah ruah itu, maka harus bangsa dan rakyat Indonesia sendiri yang mengelolanya.

Sementara negara-negara barat yang sejak dulu sangat berambisi ingin mengelola sumber daya alam Indonesia yang kaya raya itu menjadi berang.

Itulah prinsip tegas Soekarno yang membuat Amerika dan sekutunya geram, hingga berbagai cara untuk menumbangkan dan menghabisi Soekarno pun dilakukan. Berbagai kelemahan sang pemimpin bangsa inipun dicari, hingga akhirnya diketahui sebuah sisi kelemahannya terhadap wanita cantik.

Selanjutnya agen CIA pun disebar dan aksi senyap mulai digencarkan bersama Sekutunya untuk Mengadu domba Pendukukung Setia Soekarno yaitu Komunis. Indonesia menghadapi gerakan sporadis komunis yang dikenal dengan G30S/PKI. Sejumlah Jenderal menjadi Pahlawan Revolusi, ribuan rakyat tak berdosa menjadi tumbal dari jahat dan kejinya perilaku Soeharto beserta Sekutunya ( CIA ). Pada saat Itu Soekarno didatngi Panglima Angkatan Udara, Panglima Angkatan Laut, Cakrabirawa, Beserta Komandan Batalyon Banteng Riders mengenai Keadaan Negri yang sedang di Kudeta bersamaan dengn Ganyang Malaysia, Akan Tetapi Soekarno Melarang Para Sekutunya Untuk Membalas Soeharto dan CIA, Singkat cerita sang Proklamator itu pun Beserta Pengikutnya disingkirkan di masukaan kepenjara, dan Soekarno menjadi Tahanan Rumah sampai wafat akibat sakit dan disakiti Oleh Soeharto bersama Sekutunya?

Masa Rezim Soeharto

Berawal dari adanya instabilitas dalam negeri tersebut, kabarnya sebagai penerima Mandat Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) dari Presiden Soekarno, Padahal Kenyataannya Supersemar itu terlahir malalui Penodongan dan Arsip nya sampai sekarang yang Asli tidak Ada, lantas Soeharto melanjutkan tongkat kepemimpinan. Sebagai presiden kedua, mantan perwira tinggi RPKAD ini mulai memerintah dan memainkan peranannya.

Indonesia mulai berbenah diri dari kehancuran dan kemunduran tersebut. Memang diawal pemerintahan Soeharto, Indonesia sedikit mengalami perekonomian yang stabil, dan dia sempat pula dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan selama 32 Tahun. Soeharto memimpin dengan Gaya MAFIA serta memutarbalikan Fakta Sejarah Indonesia, Misalka Film G30s/PKI yang Jelas jelas PKI tidak Berslah pada waktu itu, Serta Film Serangan di JOGJA yang jelas jelas Masyarakat JOGJA tidak pernah Melihat Soeharto ikut Berperang disana, ya selama 32 tahun Rakyat Indonesia sudah dibohongi Namun di penghujung kekuasaannya perlahan predikat Bapak Pembangunan itu mulai rontok dimakan waktu.

Menurut sejumlah pendapat, penyebab rontoknya perekonomian Indonesia itu tak terlepas dari kondisi ekonomi negara-negara di dunia yang saat itu dalam keadaan goyang. Indonesia salah satu negara yang mendapat imbasnya.

Namun, saya bisa membantah bahwa mencermati berlimpah ruahnya kekayaan bangsa ini maka tidak seharusnya Indonesia turut terpengaruh resesi ekonomi dunia kala itu. Alasannya sederhana, wajar saja sejumlah negara dunia mengalami kelesuan ekonomi karena mereka kekurangan sumber daya alam.

Seharusnya tidak untuk Indonesia, karena bangsa yang subur ini, juga memiliki semua sumber daya alam baik Migas, dan tambang-tambang berharga lainnya yang luar biasa nilainya.

Artinya, apabila Soeharto selama 32 tahun berkuasa benar-benar menerapkan pembangunan secara baik dan benar, maka bangsa ini bisa terhindar dari persoalan kemelut ekonomi dunia.

Di satu sisi, tak terbantahkan bahwa di masa periode kedua pemerintahan Soeharto mulai marak terjadi korupsi di sejumlah instansi pemerintahan. Bahkan, isu korupsi itu merambah ke sanak keluarga dan kroni-kroninya. Jadi Gelar untuk Soeharto itu yang paling tepat adalah  Bapak Pembangunan Korupsi.

Akibat pembangunan yang tidak merata dan tidak terarah itu membuat satu persatu persoalan bangsa ini mulai terjadi, utang negara yang besar kepada pihak asing, serta satu persatu pula sumber kekayaan negara ini terpaksa lepas ke tangan bangsa asing.

Tidak disitu saja, kondisi dalam negeri Indonesia diperparah akibat merajalelanya para Mafia, Mafia ini Sebenarnya Orang Orang Kapitalisme yang Notabane Lawan Bebuyutan Komunisme sampai Sekarang. Mereka begitu bebasnya ‘Gentayangan’ baik di lingkup Istana serta mampu pula mempengaruhi para pejabat tinggi negeri ini. Tentu saja, gerakan korupsi mulai merambah dan menjalar kemana-mana tak tentu arah.

Polemik maraknya korupsi semakin memperburuk kemelut ekonomi bangsa ini. Tak pelak lagi, di ujung pemerintahan Soeharto, gonjang-ganjing ekonomi menuju puncaknya. Desakan Soeharto agar turun tahta mulai bergolak, aksi demonstrasi terjadi dimana-mana dan di seluruh tanah air.

Yang akhirnya, Soeharto dipaksa lengser dari kursi kepresidennya oleh kaum mahasiswa, kaum pergerakan dan rakyat yang tak henti-hentinya menggelar aksi demonstrasi di seluruh wilayah Indonesia. Pergolakan mahasiswa di Solo terjadi hampir di seluruh kampus.

UNS salah satu kampus negeri terkenal yang terletak di dekat rumah saya pun tak luput dari aksi unjukrasa. Bahkan aksi demo hampir setiap hari terjadi. Bentrokan demi betrokan dengan aparat kepolisian menghiasi kawasan jalan protokol.

Bahkan, tak akan terlupakan bagi saya atas nasib 2 orang mahasiswa UNS yang tewas mengenaskan akibat diterjang timah panas dan pukulan bertubi-tubi aparat kepolisian. para mahasiswa pasti pernah mengalami perlakuan kasar aparat. Dan sebenarnya saya adalah manusia yang mempunyai nyawa berlebih, karena beberapa kali terselamatkan oleh peluru pembawa maut itu.

Tewasnya kedua mahasiswa ini membuat suasana semakin panas. Hampir setiap hari ada saja pergerakan mahasiswa.

Kebencian terhadap Soeharto semakin menjadi-jadi. Kami semakin bersemangat untuk segera menumbangkan rezim Soeharto yang dikenal diktator itu. Saya pun tak hanya terlibat dalam aksi unjukrasa di kampus UNS saja, tapi terlibat secara partisan pada aksi-aksi rekan-rekan mahasiswa di kampus yang lain,

Begitulah Reformasi 1998 dan sejarah buruk bangsa ini. Sebenarnya saya merasa malu bila mengingat masa kelam tersebut. Karena, peristiwa yang banyak memakan korban jiwa dan harta benda itu sebenarnya tidak bisa dilupakan sampai kapanpun.

Saya juga salah satu saksi sejarah yang melihat langsung dari jarak jauh awal pecahnya kerusuhan besar 14 Mei 1998, yang dimulai dari antrian panjang kenderaan saat pengisian bahan bakar minyak (BBM) di Jl Slamet Riyadi, sekitar pukul 19.00 WIB malam itu.

Antrian panjang ratusan kenderana roda dua, roda empat, bahkan lebih hingga lebih satu kilometer itu akibat kebijakan Presiden Soeharo yang sebelumnya telah mengumumkan atas kenaikan harga BBM setelah pukul 00.00 WIB malam itu.

Entah siapa massa yang anarkis itu, tapi yang jelas malam itu saya yang malam itu mengendraia sepeda motor jenis RX KING di depan Jl Slamet Riyadi terpelongo begitu melihat aksi puluhan massa yang terkesan ibarat pasukan terlatih dengan gesitnya melakukan aksi pelemparan ke kanan dan kekiri kala itu.

Tak pelak lagi, ternyata kerusuhan besar berlanjut  dan merata terjadi di seluruh pelosok Kota Solo. Kerusuhan kecil itu menjadi massif dan tak terkendali bahkan ternyata cepat merembes hampir keseluruh daerah di Indonesia, yang menyebabkan terjadi huru hara disana sini selama beberapa hari.

Desakan agar Soeharto lengser terus mewabah di seluruh pelosok negeri. Selanjutnya, begitu mendengar berita Soeharto menyatakan mundur, gemuruh teriak histeris kalangan mahasiswa dan elemen rakyat yang masih menduduki gedung DPR-RI Senayan Jakarta dan di jalanan pun ramai. Begitu juga para demonstran di Medan dan daerah-daerah lainnya yang turut gembira menyambutnya dengan bersorak sorai.

Namun, disatu sisi Indonesia mulai dikecam dunia luar atas tragedi berdarah Mei’ 98 yang telah menewasnya ratusan manusia, pelanggaran HAM berat, pembakaran, beberapa aksi pemerkosaan, hingga penculikan aktivis kala itu.

Siapapun tak akan mau menerima sejarah buruk itu, bila begitu adanya. Tapi itu sudah menjadi takdir yang tak terlupakan dalam sejarah buruk dan kelam bangsa ini.

Siapa Penyebab Kehancuran Indonesia?

Siapa yang salah dan wajib dipersalahkan atas ‘miskinnya’ bangsa ini dan tragedi kelam Mei 1998 kelabu itu? Berbagai kalangan percaya akibat krisis moneter dunia. Dan menilai Soeharto sudah bersusah payah menghindarinya.

Namun, saya dan sejumlah kalangan cerdas lainnya berkata lain. Rontoknya perekonomian Indonesia disebabkan ‘Bom Waktu’ yang ditinggalkan rezim pemerintahan Soeharto yang dikenal otoriter itu, sehingga ratusan juta rakyat Indonesia sengsara hingga saat ini.

Betapa tidak, sampai hari ini problema bangsa ini masih terus menggeru, dan implikasinya selalu saja rakyat yang menjadi tumbalnya. Bila fenomena ini terus dibiarkan bisa dipastikan negeri ini bakal kembali pecah berkeping-keping bila tidak segera diselamatkan.

Kembali ke sosok Proklamator bangsa Indonesia, terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, tapi menurut saya hanya Soekarno lah sang Bapak Bangsa yang benar-benar peduli dan memiliki integritas yang luar biasa terhadap bangsa dan negaranya.

Mulai rezim Soeharto, Gusdur, Megawati, SBY , semuanya terkesan tak mampu mengangkat kembali roh besar bangsa ini, dan bahkan harkat dan martabat bangsa Indonesia semakin terimpit di kancah dunia internasional.

Indonesia dewasa ini selalu saja kalah dalam berbagai dialog dan kompromi tingkat dunia, yang membuktikan harga diri bangsa ini telah pupus ditelan zaman.

Lihatlah, persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri yang selalu menampar wibawa bangsa ini, dimana negara tetangga kita Malaysia saja begitu nekatnya mempermalukan citra bangsa kita.

Bila pemimpin sekarang tidak mampu tampil beda dan berani mengambil kebijakan tegas, tidak akan bisa merubah nasib bangsa ini sampai kapan pun juga.

Anjloknya nilai tukar rupiah serta sistem pemerintahan yang korup, kolusif nepotif, salah satu parameter buruknya kinerja pemerintahan tersebut.

Soeharto, Gusdur, Megawati, SBY ternyata gagal mengangkat perekonomian bangsa Indonesia. Malah sebaliknya menghancurkan bangsa ini.

Apa yang salah dalam sistem pemerintahan tersebut? Lihat saja, setelah Megawati turun, SBY ternyata kondisi Indonesia tetap Staqnan.

Nilai tukar rupiah selalu mengalami pelemahan, pengangguran serta kemiskinan terus meningkat, spekulan merajalela, dan sejumlah persoalan ekonomi lainnya.

Fenomena ini semua tidak terlepas dari maraknya aksi para Mafia yang dengan leluasa menguasai dan menggerogoti kekayaan negara dan sendi-sendi kehidupan bangsa ini.

Keberadaan Mafia itu sepertinya sulit dibasmi oleh siapapun presidennya, karena keberadaannya ibarat luka yang sudah kronis.

Menurut saya, selama sang calon pemimpin yang naik itu akibat faktor dukungan Mafia, maka selama itu pula bangsa ini tak akan lepas dari jeratan Mafia itu sendiri. Para Mafia tersebut sudah barang tentu tidk tinggal diam, dan selalu berperan dalam kancah pemilihan presiden.

Tak dapat dipungkiri, disetiap pemilihan presiden para Mafia juga bergentayangan, dan mencoba membantu pendanaan yang tidak sedikit. Maka, ketika sang calon yang didukung itu naik tahta, wajar saja sang pemilik uang sekapal itu menagih balas budi.

Sedih…. sedih….. sedih, melihat nasib bangsa dan rakyat di negeri ini. Hampir semua sektor industri dan kekayaaan alam yang ada di negeri ini sudah digerogoti habis oleh para Mafia dan kelompok Kapitalisnya.

Disatu sisi, budaya Egosentris dan acuh-tak acuh para cendekiawan, pakar politik, pakar hukum, cerdik pandai serta budayawan melihat kondisi bangsa ini, seakan mengherankan kita semua.

Apakah mereka semua telah dihipnotis oleh uang dan jabatan? Sehingga dengan teganya membiarkan aksi praktek Pembodohan, Penzoliman, Penghancuran rakyat begitu sistematis terjadi dimana-mana?

Jelasnya, perjalanan bangsa ini sudah terombang ambing tak tentu arah. Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 sebagai pedoman terkesan hanya isapan jempol belaka. Prakteknya di lapangan yang kaya dan yang berduitlah (Kapitalisme) yang pasti menang dalam kancah pertarungan politik dan hukum itu.

Lihat saja dimana-mana terjadi Penggusuran, Penindasan, Penzholiman, Pembantaian rakyat serta Pelanggaran HAM. Kekuasaan uang ternyata mampu mengalahkan segalanya.

Pemimpin bangsa ini hanya pandai beretorika. Mirisnya lagi, setiap hari kita menonton kinerja birokrasi pemerintahan yang kotor dan bobrok yang dipenuhi aneka skandal korupsi, kolusi, nepotisme dan manipulasi.

Oleh karena itu, rakyat perlu segera bangkit dari aksi pembodohan dan penipuan sistemik ini. Kita semua harus bergerak bersatu padu melakukan Gerakan Revolusi. Bangsa ini perlu ditata ulang secara Fundamental sistem pemerintahan dan sistem bernegaranya.

Ingat ! Indonesia susah bangkit bila tetap terus “Dikepung” Mafia (Kapitalisme). Untuk mengikis habis Mafia tersebut, maka harus diputus dua generasi tua sejak dari sekarang ini, dan berani dengan tegas menolak pemimpin yang tidak Pro-rakyat.

Tidak ada istilah terlambat, mari kita songsong hari esok yang cerah. Negara kita ini harus keluar dari belenggu Mafia. Bangsa kita harus dapat mencapai kemajuan pesat dan mampu bersaing dengan negara maju di dunia ini bila bisa menjalankan 6 transformasi sosial, yaitu :
(1). Kecukupan Ekonomi (Economic Sufficiency);
(2). Kedamaian Sosial (Social Peace);
(3). Keadilan Sosial (Social Justice);
(4). Karakter Bangsa (Nation & Character Building);
(5). Kompetitif berbasis SDM unggul;
(6). Pemerintahan berbasis kerakyatan.

Karena itu, diperlukan gerakan perubahan besar dan mendasar demi mewujudkan 6 agenda besar yang digebrak melalui Gerakan Revolusi, dimana dalam agenda Revolusi juga perlu didesak tuntutan, yakni :

(1). Memindahkan ibukota negara dari Jakarta yang berwajah kapitalistik ke kawasan Jogyakarta atau Solo yang Masih Kental dengan Adat atau Pondasi Sejarah berdirinya Indonesia, dan itu menandai dimulainya pembangunan pilar ekonomi kerakyatan;

(2). Pembangunan ekonomi kerakyatan dengan dua pilar sektor padat karya yaitu:
pertanian dan kelautan/perikanan yang dikelola secara modern berbasiskan Iptek.
para petani kita baru akan sejahtera bila mendapat tanah garapan seluas minimal 1
Ha perorang, dan para nelayan kita baru akan sejahtera bila diberi perahu yang
ukuran besarnya 4 kali dari ukuran perahu yang dimilikinya saat ini;

(3). Membangun spirit berdikari di segala bidang kehidupan (sosial, budaya, ekonomi,
politik, Hankam);

(4). Membangun demokrasi politik hanya dengan  parpol berplatform: Nasionalis,
Sosialis (yang identik dengan Komunisme Era Baru), Demokratis dan Agamais.

(5).  Melarang Kapitalisme dan Liberalisme , karena isinya para Mafia serta identik dengan Korupsi yang merajalela.

Pulihkan harga diri, martabat serta kehormatan bangsa Indonesia melalui satu jalan perjuangan “Revolusi Zonder Kompromi” di dalam berjuang. Revolusi adalah jalan untuk meretas harapan baru yang harus kita laksanakan bersama dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pancasila dan UUD 1945 sebagai Ideologi bangsa ini jangan hanya terkesan sebagai simbol belaka. Maka daripada itu, kepada kaum muda yang berjiwa Progresif Revolusioner, gelorakan terus aksi perjuangan untuk perubahan sosial yang besar dan mendasar.

Saat Ini kita mempunyai Pemimpin yang orang bilang lemah tapi kenyataannya JOKOWI dan AHOK adalah para pemimpin yang tidak pernah gentar melawan Siapapun Baik dari dalam Negeri dan Tekanan Luar Negeri, Semoga Akan muncul lagi para Pemimpin yang benar benar memperjuangkan Rakyat saat ini, sehingga bisa membantu melawan MAFIA ( Kapitalisme ) di Indonesia...

Ingat JOKOWI dan AHOK jika kita tidak bisa dan tidak mau membantu mereka, maka mereka akan mudah dikalahkan oleh para Mafia Kapitalisme yang Suka menindas dan orang Lemah, walau para Mulut Kapitalisme selalu Manis di depan kita akan tetapi dia seorang SUPER MUNAFIK dengan berbagai cara dibelakang kita mereka membodohi dan melakukan Korupsi.



Ibu Pertiwi terus menangis! Semoga Tuhan YME melapangkan jalan perjuangan kita.


Salam Revolusi bagimu saudara sekandung negeri keluarga besar NKRI yang majemuk…….. Merdeka !!!
Pendapat Anda

0 komentar:

Custom Search